Skip to main content

Syarat menjadi Penghafal Al Quran dan waktu terbaik untuk menghafal Al Quran

Syarat menjadi Penghafal Al Quran dan waktu terbaik untuk menghafal Al Quran by Santrie Salafie

Syarat menjadi Penghafal Al Quran dan waktu terbaik untuk menghafal Al Quran - Al-Qur'an adalah mukjizat terbesar yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad saw. Al Quran adalah kitab suci umat islam yang menjadi petunjuk hidup bagi siapa saja yang menginginkan kesuksesan hidup di dunia dan akhirat, dan sebuah petunjuk hanya akan berfungsi apabila seseorang mau membaca, menghayati dan mengamalkannya. Berbicara mengenai alQuran, maka pertama kali yang terbayang dipikiran Admin adalah Haafidz dan Haafidzah. Yaps, sampai muncul pertanyaan. Kok bisa ya mereka menjadi Haafidz Haafidzah !!! Apa saja syaratnya agar bisa menjadi penghafal Quran? Berat nggak sih?

Nah, pada kesempatan kali ini Santrie Salafie akan berbagi tentang Syarat menjadi Penghafal Al Quran dan waktu terbaik untuk menghafalkannya. Tanpa menunda waktu lagu, langsung saja yuk scroll ke bawah untuk menyimak lebih lanjut tentang syarat-syarat agar bisa menjadi Penghafal Al Quran dan pemilihan waktu terbaik untuk menghafal Al Quran.

Syarat menjadi Penghafal Al Quran

Penghafal Al-Qur’an biasanya disebut dengan sebutan haafidz (bagi laki-laki) dan haafidzah (bagi perempuan). Kata ini berasal dari kata haffadza yang artinya menghafal, berarti sebutan ini ditujukan bagi orang yang sudah menghafalkan Al-Qur’an. Tata cara perilaku seseorang yang telah menetapkan diri menjadi penghafal selanjutnya dibimbing oleh pemahaman terhadap apa yang telah dipelajari dan dikuasainya yaitu Al-Qur’an dan Sunnah.

1. Niat yang Ikhlas

Niat yang ikhlas dan sungguh-sungguh akan mengantar seseorang ketempat tujuan, dan akan membentengi dan menjadi perisai terhadap kendala-kendala yang mungkin akan datang. Niat adalah hal yang paling utama dalam melakukan segala sesuatu. Niat juga sebagai pengaman dari penyimpangannya dalam suatu proses menghafal Alquran. Karena niat yang ikhlas karena Allah akan memacu tumbuhnya kesetiaan dalam menghafal Alquran. Dengan demikian tidak lagi menjadi beban yang dipaksakan, akan tetapi justru menjadi kesenangan dan kesabaran.

Niat yang ikhlas dan sungguh-sungguh bermakna bahwa seseorang harus meluruskan niat dan tujuan menghafal Al-Qur’an semata-mata untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Niat yang tidak lurus sejak awal seperti menginginkan popularitas dan mengharapkan pujian akan mempersulit penghafal dalam proses menghafal Al Quran bahkan tindakannya dikategorikan sebagai perbuatan dosa.

2. Memperbaiki bacaan

Sebelum seseorang melangkah pada penghafalan Alquran, seharusnya seseorang yang ingin menghafal Alquran harus meluruskan, melancarkan dan menguasai bacaan tajwid terlebih dahulu agar hafalannya bagus dan benar.

Meskipun Al-Qur’an menggunakan Bahasa Arab akan tetapi melafazkannya sedikit berbeda dari penggunaan bahasa Arab populer, oleh karena itu mendengarkan terlebih dahulu dari orang yang bacaannya benar menjadi suatu keharusan.

3. Menentukan target hafalan setiap hari

Kadar hafalan ini sangat penting untuk ditentukan agar penghafal menemukan ritme yang sesuai dengan kemampuannya dalam menghafal. Setelah menentukan kadar hafalan dan memperbaiki bacaan maka wajib bagi penghafal untuk melakukan pengulangan secara rutin. Pengaturan target dan waktu mempunyai fungsi yang sangat penting dalam upaya memperbarui semangat dan kemauan meniadakan kejenuhan dan kebosanan serta mengupayakan adanya kesungguhan.

4. Jangan melampaui Target Harian sebelum hafalannya bagus dan sempurna

Tujuannya dari anjuran ini adalah agar tercapai keseimbangan, bahwa Penghafal Al-Quran juga disibukkan dengan kegiatan hariannya sehingga diharapkan hafalan yang benar-benar sempurna tidak akan terganggu dengan hafalan yang baru dan kesibukan yang dihadapi.

5. Konsisten dengan satu mushaf

Alasan kuat penggunaan satu mushaf ini adalah bahwa manusia mengingat dengan melihat dan mendengar sehingga gambaran ayat dan juga posisinya dalam mushaf dapat melekat kuat dalam pikiran. Alasan ini memudahkan penghafal untuk mengenali simbol khusus yang digunakan oleh penerbit mushaf untuk menandai permulaan satu lembar ayat yang akan dihafalkan. Secara kognitif, simbol yang sama memudahkan penguatan encoding yang dilakukan oleh panca indera yaitu mata dan pendengaran, dengan demikian model mushaf yang digunakan tidak berubah-ubah strukturnya di dalam peta mental.

6. Pemahaman adalah cara menghafal

Memahami apa yang dibaca merupakan bantuan yang sangat berharga dalam menguasai suatu materi. Oleh karena itu, penghafal Al-Quran selain harus melakukan pengulangan secara rutin, juga diwajibkan untuk membaca tafsiran ayat yang dihafalkan. Dua hal ini menjadi inti dalam mencapai hafalan yang sempurna, pemahaman tanpa pengulangan tidak akan membuahkan kemajuan, dan pengulangan tanpa pemahaman juga membuat hafalan menjadi sekedar bacaan biasa.

7. Memperdengarkan bacaan secara rutin

Tujuannya dari kegiatan ini adalah untuk membenarkan hafalan dan juga berfungsi sebagai kontrol terus menerus terhadap pikiran dan hafalannya

8. Mengulangi secara rutin (Istiqamah)

Yang dimaksud dengan istiqamah disini adalah konsisten. Artinya, selalu menjaga kelancaran dalam proses menghafal Alquran, dengan kata lain seorang yang menghafal Alquran harus senantiasa menjaga kontinuitas dan efisien terhadap waktu.

Penghafalan Al-Qur’an berbeda dengan penghafalan yang lain, karena cepat hilang dari pikiran. Oleh karena itu, mengulangi hafalan melalui wirid rutin menjadi suatu keharusan bagi penghafal Al-Qur’an. Pengulangan rutin dan pemeliharaan yang berkesinambungan akan melanggengkan hafalan, sebaliknya jika tidak dilakukan maka Al-Qur’an akan cepat hilang.

9. Menggunakan tahun-tahun yang tepat untuk menghafal

Semakin dini usia yang digunakan untuk menghafal maka semakin mudah dan kuat ingatan yang terbentuk. Tingkat usia seseorang memang berpengaruh terhadap keberhasilan dalam menghafal Alquran. Usia yang masih dini belum banyak terbebani problematika hidup yang memberatkan. Sehingga akan lebih cepat menciptakan konsentrasi untuk mencapai sesuatu yang diinginkan.

10. Menjauhkan Diri dari Maksiat dan Sifat-Sifat Tercela

Perbuatan maksiat dan tercela merupakan suatu perbuatan yang harus dijauhi bukan hanya oleh seorang yang menghafal Alquran, akan tetapi untuk semua muslim. Pada umumnya mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan jiwa dan mengusik ketenangan hati orang yang sedang menghafal Alquran. Satu diantara sifat yang harus dijauhi khususnya bagi penghafal Alquran yaitu madzmumah, ujub, riya’, hasad dan sebagainya.

Sifat madzmumah ini sangat besar pengaruhnya terhadap orang-orang yang menghafalkan Al-Qur`an. Perbuatan maksiat dan sifat madzmumah mempunyai pengaruh terhadap perkembangan dan kestabilan jiwa (rohani) seseorang, termasuk didalamnya seorang yang sedang menjalani proses menghafal Alquran. Jika ketenangan jiwa seseorang terganggu maka konsekwensi (istiqamah) pada diri seseorang akan terpengaruh.

Konsentrasi yang selamanya telah dibina dan dilatih sedemikian baiknya akan berubah bahkan akan menghilangkan konsentrasi penghafal Alquran. Misalnya, seseorang yang menghafalkan Alquran karena riya’, jika tidak ada seorang di dekatnya, maka dia tidak akan melanjutkan untuk menghafalkan atau membaca, karena Allah SWT mengancam dan melarang seseorang berakhlaq tercela tersebut.

Di samping beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh seorang penghafal Alquran, maka ada juga faktor pendukung dalam menghafal Alquran juga merupakan hal yang dianggap penting demi tercapainya tujuan tersebut, adapun faktor-faktor pendukung itu antara lain :

Waktu Terbaik dalam Menghafal Al Quran

Adapun waktu yang dianggap sesuai dan baik untuk menghafal Alquran adalah sebagai berikut:

1. Waktu sebelum terbit fajar

Waktu sebelum terbit fajar merupakan waktu yang baik untuk menghafal ayat-ayat suci Alquran, karena disamping memberikan kesenangan juga saat yang banyak memiliki keutamaan. Setelah sholat

2. Waktu diantara maghrib dan isya'

Di berbagai Pondok Pesantren, banyak yang menggunakan waktu antara maghrib dan isya' untuk tadarus al Qur'an. Para santri yang menghafal Alquran biasanya menyiapkan setoran hafalannya pada waktu-waktu tersebut, mereka memanfaatkan waktu antara maghrib dan isya' ini dengan sebaik mungkin supaya saat setoran setelah shalat subuh bisa lancar dan tidak kena takziran.

Kaidah-kaidah ini selanjutnya akan memberikan arahan bagi penghafal Al-Qur’an di dalam menjalani proses menghafal. Kaidah ini juga memberikan gambaran bahwa semangat yang dimiliki oleh seseorang untuk menghafal harus benar-benar teregulasi dengan baik sesuai dengan kaidah yang berlaku, agar pencapaiannya menjadi efektif.

Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat kita ambil dari artikel diatas adalah:
  • Menjadi Penghafal Al Quran memanglah dambaan setiap muslim muslimah di seluruh dunia, tanpa memandang usia, gender, suku, ras dan bahasa khas dari masing-masing daerahnya. Karena sudah menjadi rahasia umum bahwa salah satu kemuliaan yang diperoleh para penghafal al Quran adalah dia selalu bersama para malaikat dirumahnya. Subhanallah. Maka dari itu sudah sangat pantas sekali apabila penghafal al Quran menjadi cita-cita seluruh umat islam di dunia.
Semoga dengan membaca artikel ini, bisa menambah wawasan dan menjadi solusi bagi kita semua yang sedang berusaha untuk menjadi Ahlul Quran. Amin. Salam santun dan semoga bermanfaat.

Baca juga: Sejarah Gerakan Salafi Modern di Indonesia

Comment Policy: Setiap komentar yang masuk akan diperiksa terlebih dahulu sebelum ditampilkan, silakan tulis komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui. Terima kasih untuk kerja samanya.
Buka Komentar
Tutup Komentar