Skip to main content

Kumpulan Cerita Hati yang Rindu

Kumpulan Cerita Hati yang Rindu by Santrie Salafie

Kumpulan Cerita Hati yang Rindu - Pernahkah kalian membaca atau mendengar kisah tentang Cerita Hati yang Rindu? Bagaimana rasanya saat kerinduan itu datang menghampiri kalian? Seperti apa sih warna dan bentuk kerinduan itu? Lantas, kepada siapa kalian merindu?

Nah, pada kesempatan kali ini Santrie Salafie akan berbagi tentang Kumpulan Cerita Hati yang Rindu. Selengkapnya, langsung saja yuk scroll ke bawah untuk menyimak lebih lanjut tentang Kumpulan Cerita Hati yang Rindu.

Cerita Rindu Seseorang

Kisah ini adalah lanjutan dari Kumpulan Kisah Cerita Tentang Rindu Bagian Pertama yang beberapa waktu lalu sudah Admin publish. Dan sebelumyna Admin mau minta maaf dulu nih ama pembaca sekalian, kalau baru hari ini bisa posting artikel lagi. Sebenarnya besok ada Ujian, tapi Admin sempetin update karena Admin rindu kalian. cieee.....

Biar gak kelamaan, langsung saja yuk simak kelanjutan kisahnya.

Cerita Hati yang Rindu 4

Ada yang salah saat melihat Rindu hanya menatap kosong pintu rumah dengan plitur coklat itu. Wajahnya sendu dan muram, tapi Gavin tidak berani bertanya sebelum gadis itu mau bercerita sendiri. Gavin sangat menghargai privasi seorang wanita, asal kalian tahu.

"Nggak mau ngetuk?" Tanya Gavin ketika selang beberapa detik mereka sampai pada rumah berpelitur coklat itu, Rindu tak kunjung mengetuk pintu. "Lupa, ya, caranya ngetuk pintu?"

Rindu hanya diam, kemudian mengangkat tangannya untuk bersiap mengetuk pintu. Ia tak boleh terus-menerus menghindar. Mau bagaimanapun, Saveri belum resmi menjadi milik perempuan bernama Karin itu.

Gavin mengembuskan napas kasar dan mengambil alih untuk mengetuk pintu. Ia tak akan membiarkan Rindu yang mengetuk kalau gadis itu mengangkat tangannya saja ogah-ogahan. Sejak pulang sekolah tadi dan memutuskan untuk menjenguk Anya yang pulang duluan, Gavin sama sekali tak melihat warna di wajah Rindu.

Rindu menolah ketika tangannya beralih digenggam Gavin yang lain, ketika tangan lainnya, laki-laki itu gunakan untuk mengetuk pintu. "Lo kelamaan," kata Gavin berlagak tak acuh. Pintu tersebut berangsur terbuka dan memperlihatkan laki-laki dengan kaos polo putih dan celana kain warna biru selutut. Rindu terpana sejenak sebelum akhirnya ia mampu mengendalikan dirinya sendiri. Pesona Saveri selalu mampu membuat Rindu lupa diri.

"Ngejenguk Anya, ya?" Tanya Saveri dengan nada dan wajah datar. "Iya." Gavin yang menyahut. Sedangkan Rindu masih diam dengan mata menatap wajah Saveri dalam diam. Saveri masih tetap di tempatnya. Ia balik memandang Rindu dan membuka pintu lebih lebar, membiarkan tamunya melihat seisi rumah. "Dia di kamar. Abis minum obat," katanya sambil tetap memandangi wajah Rindu tanpa ekspresi.

Gavin melirik kesal. Kemudian segera saja ia menarik Rindu dan membawanya ke kamar Anya. Untung saja ia sudah terbilang sering main ke rumah Anya, biarpun itu sekedar numpang makan atau tidur. Jadi, setidaknya ia tidak terlalu canggung dengan seisi rumah Anya. Begitu pun Rindu.

Gavin membuka pintu dan terlihat Anya sedang berbaring tengkurap dengan majalah langganannya di tangannya. "Lo nggak sakit?" Gavin histeris duluan. Suaranya yang khas lelaki, besar dan ngebass, berasa kamar Anya sedang ada gempa.

"Woi! Kira-kira dong kalau mau teriak. Nggak sadar kelamin apa?!" Ujar Anya jengkel. Kemudian dirinya beralih menjadi duduk di atas kasur dan menatap kedua temannya dengan mata berbinar.

Gavin memberengut. Laki-laki itu berangsur mendekati Anya dan duduk di kursi belajar yang ada di dekat kasur. "Lo nggak sakit, Nya?" Alis Rindu mengernyit. Melihat kondisi Anya yang sekarang benar-benar berbeda dari gadis itu beberapa jam yang lalu. "Lo sehat?"

"Ya, seperti yang kalian lihat sekarang. Gue sehat. Lebih tepatnya lebih sehat daripada beberapa jam yang lalu," katanya belagak keren. Gavin yang duduk di kursi berdecih. "Sudah gue duga..."

"Eh, tadi gue beneran sakit, ya!" Kata Anya dengan nada tak suka mendengar Gavin menanggapi perkataannya seolah Anya tadi hanya pura-pura. "Lagian, Rin, ngapain juga lo bawa penjahat kelamin ini ke rumah gue, sih? Jadi penuh kuman, kan rumah gue!"

"Yang lo katain penjahat kelamin siapa? Gue? Oh gitu sekarang? Ngajak berantem?!" "Iya. Kenapa? Lo takut?" "Oke. Siapa takut. Maju lo! Cewek kaya lo cuma modal bacot, doang." "Sini lo!" "Lo yang sini!" Rindu yang masih berdiri di sisi ranjang hanya menggelengkan kepala dan membiarkaan mereka adu cekcok sampai berbusa. Yang penting dirinya tak mau pusing-pusing melerai anjing dan kucing yang lagi temu kangen.

Dengan malas, Rindu meletakkan tasnya ke ranjang Anya. "Gue ke bawah dulu ya, Nya. Mau minta minum sama Bibi." Keduanya langsung saling diam dan mengalihkan perhatiannya pada Rindu yang hampir mencapai pintu. "Gue juga, Rin, jangan lupa! Jus alpukat!" Teriak Gavin. "Si punya Onta, jangan lupa tambahin racun tikus ya, Rin."

Rindu terkekeh dari balik pintu mendengar kedua sahabatbya kembali adu cekcok. Kadang mereka bisa selengket perangko dan surat, tapi satu sisi juga seperti kutub yang saling berlawanan. Mereka itu lucu. Rindu turun ke bawah, dan tak mendapati Bibi yang biasanya sedang berkutat dengan peralatan dapur. Lantai bawah terlihat lengang.

"Apa lagi ke pasar, ya?" Gumam Rindu. Kakinya terus melangkah sampai halaman belakang karena mendengar suara percikan air di sana. Sampai di halaman belakang, Rindu mendapati Saveri sedang sibuk berenang ke sana ke mari. Bahkan saking seriusnya, lelaki itu sampai tak menyadari keberadaan Rindu.

Sebelum Saveri menyudahi aktivitas berenangnya, Rindu berbalik dan menuju pantry. Tangannya cekatan membuka kulkas dan menuangkan jus jambu favorit Saveri ke dalam gelas.

Tubuh Saveri terasa lebih segar setelah berenang. Ia berjalan ke arah kursi yang biasa digunakan untuk bersantai di dekat kolam renang dan mendapati segelas jus jambu di sana.

Dahi Saveri mengernyit dan meraih gelas jus tersebut dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Senyum kecil terlukis di sudut bibir Saveri, sebelum lelaki itu akhirnya memutuskan untuk meminum jus tersebut.

Dengan handuk yang tersampir di lehernya, Saveri menaiki anak tangga untuk ke kamarnya. Ia melihat kamar adiknya yang memang berada di depan kamarnya telah kosong, menyisakan Anya yang terbaring di ranjang sendirian sedang bermain ponsel.

"Temen lo udah pulang?" Tanya Saveri dengan sebelah tangan memegang knop pintu dan memerhatikan sekitar. Dan benar, kosong. Anya mengangguk tanpa minat dan lebih memilih fokus pada ponselnya. "Tumben." "Kenapa?" Tanya Anya sembari meletakkan ponselnya di nakas sebelah tempat tidurnya. "Nggak. Biasanya juga temen lo bakal susah pulang. Apalagi..."

"Rindu?" Saveri bungkam dan mengangkat kedua bahunya ketika sang adik tepat sasaran memotong ucapannya. "Mereka mau pergi berdua katanya." "Oh."

Kemudian Saveri melangkah keluar dari kamar Anya dengan perasaan tak karuan. "Sebenernya gue kenapa sih? Apa mau demam ya?" Saveri mendumal pelan sepanjang langkahnya menuju kamarnya sendiri.

***

"Udah lama tahu, gue nggak ke sini lagi." Gavin menoleh dan menyodorkan jagung bakar yang habis dibelinya beberapa detik lalu. "Yaelah, Rin. Ini taman kompleks rumah lo, ya kali lo nggak pernah ke sini."

"Yeee, emang nggak pernah kok," Rindu meregangkan persendian lengannya yang agak kaku. "Menurut lo nih, ya, Vin. Apa gue move on aja dari Kak Saveri? Secara ya, dia udah mau tunangan sama pacarnya. Gue mikir, kayak selama ini emang guenya aja yang terlalu berharap sama dia."

Gavin menerawang gemerlap lampu taman yang mulai bersinar menerangi suasana sore hari. "Kalau lo mau move on, move on aja. Gue bakal bantuin, kok." Gavin menoleh memperhatikan wajah Rindu dari samping. "Gue yang bakal gantiin posisi Saveri di hati lo, gimana?"

Seketika, perkataan Gavin barusan membuat Rindu tersedak jagung yang baru ia kunyah. Rindu menoleh dan mendapati Gavin sedang memperhatikannya. Matanya tajam penuh kesungguhan.

Dari situ, Rindu mulai takut akan beberapa hal.

*** 1 Desember 2017

Cerita Hati yang Rindu 5

Entah hanya perasaan Gavin, atau memang hari ini Rindu selalu menghindarinya? Seperti ketika lelaki itu baru saja bergabung duduk bersama Rindu dan Anya. Tiba-tiba saja Rindu bangkit dan pamit untuk ke kelas. Katanya mau mengerjakan pr yang belum sempat ia selesaikan di rumah.

Namun, ketika Gavin hendak ke kelas, nyatanya ia mendapati Rindu bermain basket sendirian di lapangan indoor dengan masih mengenakan seragam lengkap. Gavin menghampirinya dan langsung merebut bola yang dengan brutal gadis itu dribble.

"Lo kenapa hari ini, Rin?" Rindu mengembuskan napasnya dan berusaha merebut kembali bola tersebut dari tangan Gavin. Ketika ia tak kunjung mendapatkan bola, Rindu menggeram dan berbalik melangkah pergi.

"Malesin tahu nggak sih lo!" Kata Rindu dengan suara lantang sambil melenggang menjauhi Gavin. "Rin!" Gavin segera mengejar Rindu dan menangkap pergelangan tangan gadis itu. "Lo kenapa?" "Lo tanya gue kenapa? Gue nggak apa-apa, goblok!" "Itu artinya lo kenapa-napa, Rin. Apa gara-gara omongan gue kemarin? Iya?"

Wajah Rindu sudah tak mengenakkan. Gadis itu memutar kedua bola matanya dan melepaskan tangannya yang digenggam Gavin. "Iya. Gara-gara lo beliin gue jagung bakar, perut gue jadi mules sampai sekarang!"

Kadang memang Rindu seenggak jelas itu. Kalau suasana hati gadis itu sedang baik, ia bisa berubah menjadi kucing manis penurut. Namun, kalau sudah kepentok suatu hal yang mengusiknya dan merusak suasana hatinya, ia bisa berubah menjadi manusia yang tidak jelas dan menyalahkan apa saja sampai hal sepele sekalipun.

Gavin melongo ketika menyadari memang suasana hati gadis itu sedang tak baik. Maka dari itu, ia lepaskan genggamannya dan membiarkan Rindu melangkah menjauhinya dengan kaki dihentakkan.

***

Begitu bel pulang berbunyi, Gavin segera keluar kelas menyusul Rindu yang secepat kilat keluar dari kelas. Gadis itu memang mungil, tapi entah kenapa gesit sekali menghindar dari Gavin.

"Kalian kenapa sih?" Anya menghadang pergerakan Gavin yang sudah berada di ambang pintu kelas. Gavin tak fokus pada apa yang Anya ucapkan. Matanya jelalatan keluar kelas, mengawasi koridor yang sudah tak ada sosok Rindu di sana.

"Eh, Hai, Nya. Gue duluan, ya." Anya merasa ada yang aneh dengan kedua sahabatnya itu. Lihat saja Gavin yang tak mengacuhkan pertanyaannya dan langsung pergi setelah berkata singkat. Biasanya lelaki itu tak begitu.

Memang benar, ada yang tidak beres di antara mereka berdua.

***

Rindu menyandarkan punggungnya pada tiang halte dan mengistirahatkan kakinya sejenak. Nyatanya berjalan cepat dengan berlari, lebih melelahkan jalan cepat. Rasanya kaki-kaki mungil Rindu mau copot dari tempatnya.

"Gila, gila, gila!" Rindu mengusap peluh di dahinya. Kemudian tangannya merogoh saku rok untuk mengeluarkan HPnya. Lagi-lagi, Rindu mendapati kekecewaan. Mamanya baru saja mengabari bahwa beliau tidak bisa menjemput Rindu, dan mengatakan untuk Rindu nebeng Gavin, seperti biasa.

"Nebeng gimana, coba? Mati-matian gue ngehindar, ya kali tiba-tiba minta nebeng. Mama kadang ngajak berantem, ya." gerutunya dengan bibir mencebik dan memasukkan kembali HPnya ke saku rok.

Sebuah mobil yang Rindu sudah tak asing lagi, tiba-tiba berhenti tepat di depannya. Kaca penumpung terbuka secara berangsur dan menampilkan wajah Anya di sana. "Lah, belum pulang, Rin?" Tanya Anya. Rindu bukan fokus pada apa yang Anya tanyakan melainkan pada sosok lelaki yang duduk diam mematung di kursi kemudi tanpa minat menoleh. Diem aja kelihatan ganteng. Batin Rindu. "Rin?"

Rindu mengalihkan pikirannya, dan tersenyum ke arah Anya. "Nebeng, ya?" Tanpa menunggu jawaban Anya, Rindu langsung membuka pintu penumpang belakang dan duduk dengan anteng di sana. Senyum seribu watt tak pudar dari bibir Rindu.

"Wah... tumben nggak sama Gavin. Biasnya juga dia yang nganter lo pulang kalau nggak ada jemputan, gini." Langsung saja bibir Rindu tertekuk ke bawah. Dari kaca spion, Saveri melirik sekilas. "Lagi males," jawabnya tanpa minat. "Kalian berantem?"

Rindu mengalihkan wajahnya keluar jendela dan fokus memperhatikan bangunan yang mereka lewati. "Nggak. Lagi males aja lihat Gavin." Anya menaikkan kedua alisnya tak paham. Namun, ia tak lagi bertanya dan memilih diam.

Saveri lagi-lagi melirik spion dan memperhatikan wajah Rindu yang terlihat lesu. Kemudian kembali fokus ke jalanan. Bukan urusannya kenapa gadis itu terlihat lesu dan tak bersemangat. Bukan haknya bertanya alasan di balik wajah murung Rindu. Tapi ada sedikit rasa tak nyaman ketika Rindu berusaha menyembunyikan masalahnya dan terlihat baik-baik saja.

***

Setelah mobil tiba di pekarangan rumah Anya, Rindu tak langsung pulang. Ia memilih bersantai di rumah sahabatnya itu dulu. Lagipula di rumah tak ada siapa-siapa. "Lo pulang, ganti baju, baru ke sini lagi. Bandel banget, sih, dibilangin." Sudah terlalu sering Anya mengingatkan kebiasaan Rindu, tapi sesering itu juga Rindu kerap kali tak menurut.

"Nggak, ah. Males, capek, panas." Keluhnya sembari merebahkan tubuhnya di kasur Anya. Dengan jengkel, Anya menarik Rindu agar menyingkir dari kasurnya.

"Males mulu hidup lo. Lagian Rumah depan situ, berapa menit juga sampai. Lebay, lo! Sana cuci kaki, muka sama mandi sekalian kalau bisa. Kotor nih kasur gue," omel Anya.

Dengan bibir mengerucut, Rindu menurut. Tapi hanya untuk cuci muka dan kaki, bukan untuk mandi.

"Abang lo berangkat kemana lagi?" Tanya Rindu ketika keluar dari kamar mandi. Anya yang sedang membereskan meja belajar menoleh dan berjalan duduk di sofa yang ada di balkon. "Tau! Keluar jalan sama Kak Karin kali" jawab Anya tanpa minat. Rindu berdecak sebal. "Kapan, sih, mereka putus?"

Anya melirik jenaka pada Rindu yang menyandarkan tubuhnya pada pagar balkon. Ia sebenarnya merasa takjub pada Rindu yang masih bertahan dengan cinta sepihaknya. Bayangkan kalau Anya mengalami hal yang sama, berani taruhan. Baru beberapa hari pun, pasti Anya sudah ganti hati dan melupakan yang lama. Ya... bisa dibilang Anya pernah di posisi Rindu.

"Canda ya lo. Orang mereka mau tunangan juga." Anya menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa dan menghela napas. "Lagian, kemarin Bang Veri baru beli cincinnya." Rindu terhenyak di tempat. Jadi, memang Saveri sudah seserius itu dengan kekasihnya? Melihat Rindu melenggang pergi, membuat Anya langsung duduk tegak, waswas. "Mau kemana lo?" "Kemana lagi..."

Anya bisa menebak. Untuk itu, sebelum Rindu menjalankan rencananya, Anya segera berlari mendahului Rindu dan berdiri menghadang di depan pintu kamar Saveri.

"Nggak. Lo lupa? Abang gue bisa marah besar kalau tahu lo masuk kamar dia lagi. Masih untung kemarin lo cuma ngambil celananya, jangan sampai sekarang lo mau ambil cincinnya!" omel Anya.

Rindu meringis. Sebenarnya memang itu rencana yang terlintas di benaknya. Ia akan mengambil cincin tersebut dan menyembunyikannya supaya tunangan itu bisa batal. "Jangan gila, Rin!" "Apa, sih, Nya. Gue cuma mau masuk lihat-lihat doang, kok. Suer. Lo boleh ikut masuk ngawasin gue." alibi Rindu.

Anya mendesah pasrah. Melihat betapa gigihnya Rindu bertahan menyukai kakaknya membuat ia sedikir iba dengan Rindu. Andai saja sang Kakak tidak pernah bertemu dengan Karin, Anya yakin, Rindu akan memiliki kesempatan.

"Oke, oke. Tapi cuma lima belas menit, ya. Gue nggak tanggung jawab kalau Abang marah." Anya menyingkir dan membiarkan Rindu membuka kamar Saveri.

Bau pinus langsung menyeruak kala pintu terbuka. Semakin masuk, baunya semakin membuat Rindu ketagihan. Ini baunya Saveri. Dan Rindu suka. Rindu langsung menuju meja belajar yang berisi tumpukan majalah. Ia tak menyangka sudah sebanyak itu Saveri membintangi sampul majalah. Dengan iseng, Rindu menyingkirkan satu majalah dimana Saveri sedang berpose dengan kemaja putih yang tak dikancingi, memperlihatkan perut sixpack miliknya.

"Gue ambil yang ini." Anya yang hanya berdiri di depan pintu langsung melotot. Dengan tidak sabaran, Anya melangkah mendekati Rindu dan merebut majalah tersebut. "Mau matiin gue ya lo!" Anya langsung menata semua majalah milik Saveri dan menjauhkannya dari jangkauan Rindu.

Rindu terkikik geli. Kemudian ia memutari kamar Saveri hingga berakhir di ranjang lelaki itu. Tanpa sengaja ia menemukan kotak beludru warna merah berada di nakas dekat lampu tidur. Rindu meraihnya. Jantungnya berdegup tidak karuan. Fakta berada di depan mata. Dengan ragu, Rindu membuka kotak tersebut.

"Lo ngapain?!" Seru Saveri dari balik punggung Rindu. Rindu membeku. Segera ia berbalik dan lupa menaruh kembali kotak cincin ke tempatnya. Wajah Saveri mengeras. Matanya melotot. Bukan hanya ke Rindu, tetapi Anya yang sedang jongkok di lantai juga ikut kena imbasnya. Mampus gue!

Saveri berderap mendekati Rindu dan merebut paksa barang yang ada di tangan gadis itu. Laki-laki itu menatap benda yang sudah berada di tangannya, kemudian bergantian menatap Rindu dan Anya.

"Keluar!" Katanya dengan suara pelan, mencoba meredam emosinya. Sesaat, Anya dan Rindu terpaku di tempat. Tidak tahu harus berbuat apa ketika sudah tertangkap basah. "Keluar kata gue!" Kini Saveri membentak dengan suara tinggi. Cukup membuat Anya tersadar dan segera menyeret Rindu yang masih mematung di tempat.

Setelah keluar dari kamar miliknya, Saveri menutup pintu dengan keras. Segera saja Anya menyeret Rindu masuk ke kamarnya dan memceramahinya habis-habisan karena ulah Rindu, Anya ikut kena imbasnya.

"Gue mau pulang." Belum sempat Anya membuka mulut, Rindu lebih dahulu bicara. Tanpa menunggu persetujuan dari Anya, Rindu mengambil tas miliknya dan melenggang keluar kamar Anya.

Rindu butuh waktu buat sendiri sekarang.

*** 8 Januari 2018

Hai, apa kabar? Lama tak jumpa ya?

Udah tahun baru aja dan cerita nggak selesai2 ya  Aku mau infoin, kalau untuk saat ini aku bener2 musti hiatus. Fokus sama sekolah dan cita-cita aku dulu. Doakan semoga semua pancar ya

Mungkin aku bakal balik ke wattpad, entah kapan. Tapi aku bakal nyempatin buat update sekali-kali. Biarpun jarang, aku bakal usahain, kok. Udah itu aja yang mau aku sampaiin. Dan... Menurut kalian, bab ini bagaimana?

Love, Erisya (Yang Sedang Rindu Masa TK-nya)

Cerita Hati yang Rindu 6

Rindu suka suasana malam yang hening. Menurutnya, waktu terbaik dalam sisa hari ini hanyalah malam ini saja. Ia duduk di sofa yang sengaja diletakkan di beranda kamarnya sembari mendengarkan musik lewat earphone.

Rasanya damai dan menenangkan. Ia bangkit dari posisinya duduk dan berjalan menuju teralis besi pembatas beranda. Dari lantai dua rumahnya ini, ia bisa melihat jelas bangunan rumah depannya.

Yang ia lakukan hanya diam memandang dengan sesekali mengembuskan napas kasar. Kemudian matanya beralih menatap langit dengan kerlipan bintang. Tanpa sengaja, ekor matanya menangkap pintu balkon seberang sana terbuka hingga menampakkan sosok laki-laki yang sedari tadi memenuhi pikirannya. Saveri.

Lelaki itu tak menyadari bahwa Rindu memperhatikannya. Ia dengan acuh berjalan menuju kursi kayu dan duduk di sana. Tangannya menggenggam kotak yang Rindu yakin, itu adalah kotak yang sama dengan kotak yang ia temukan tadi siang di kamar Saveri.

Ia tampak membuka kotak tersebut, memandanginya sebentar, kemudian mengalihkan pandangan. Tepat saat itulah pandangan mereka bertemu. Rindu selalu saja memaku di tempat. Namun, Saveri segera memutuskan kontak dan kembali masuk ke kamar.

Malam terasa lebih sunyi dari malam-malam sebelumnya.

***

Rindu hampir selesai mengikat tali sepatunya ketika tiba-tiba saja sang Mama berkata bahwa Gavin telah menunggunya di teras rumah. Rindu sempat berdehem sejenak sebelum akhirnya mengencangkan tali tas ranselnya dan membuka pintu.

Gavin berbalik dan menyambut Rindu dengan senyuman. "Pagi Rindu." Rindu hanya memandanginya datar. "Ngapain lo ke sini pagi-pagi? Nggak ada jatah sarapan lagi buat lo," sinisnya. "Gue mau ngejemput lo kok. Kita berangkat bareng."

Rindu menaikkan sebelah alisnya dan berjalan tanpa acuh. "Siapa yang minta lo ngejemput gue, sih? Gue bisa berangkat sendiri." Tak menyerah sampai situ, Gavin tetap ngotot membuntuti Rindu dengan berjalan kaki di sebelahnya. Ia memutuskan untuk menemani gadis itu jalan kaki daripada memaksanya menaiki motornya.

Bisa-bisa Rindu bukannya mengalah, malah tambah marah ke Gavin. Rindu termasuk gadis yang keras kepala dan tempramental. Ia masih kesal dengan Gavin. Selama ini Rindu hanya menganggap Gavin teman, dan ia sama sekali tak menemukan masalah atas anggapannya tersebut.

Mendapat pengakuan secara tidak langsung dari lelaki itu, cukup membuat Rindu tidak tahu harus bagaimana dan memutuskan untuk menjaga jarak dari Gavin sementara waktu.

Lagi-lagi, saat keluar dari gerbang rumahnya, Rindu berpapasan dengan Saveri. Di sebelahnya ada Anya yang melambaikan tangan, kemudian berlari menyebrang untuk menghampiri mereka.

"Kok jalan kaki?" tanya Anya sembari mengimbangi langkah kedua temannya. "Rindu yang pengen." "Gue mau naik ojek."

Setelah beberapa detik Rindu menyahut, sebuah mobil jazz berhenti di sebelah mereka. Kaca jendelanya diturunkan sampai memperlihatkan wajah sang pengemudi. "Kalian naik!" suruhnya dengan nada datar membuat ketiga remaja itu hanya menatap tanpa bereaksi.

Saveri menghela napas. "Gue nggak mau kena omel Mama gara-gara Anya telat. Tugas gue buat antar jemput dia. Kalian berdua boleh nebeng, biar Anya maupun gue nggak kena masalah," jelas Saveri panjang lebar.

Anya langsung tersenyum lebar dan menggandeng kedua temannya untuk ikut masuk ke mobil. Bahkan Rindu pun tak bisa menolak tawaran Saveri.

***

Rindu keluar dari mobil Saveri paling terakhir. Sedangkan kedua sahabatnya sudah melangkah cepat mendahuluinya.

Baru selangkah Rindu menjauh dari mobil Saveri, tiba-tiba saja Saveri mencekal lengannya. "Nanti pulang, gue jemput," katanya tanpa mau menerima bantahan. Rindu mengernyitkan dahinya dan memandangi mobil Saveri yang berangsur menjauh.

***

"Rin, lo masih marah sama gue? Maafin gue ya, ya?" Saat ini mereka sedang mengikuti ekstra basket yang rutin dilaksanakan setiap pulang sekolah di hari Jum'at. Sejak di kelas sampai sekarang, Gavin tak berhenti mengganggu Rindu dengan kata-kata yang sama. Membuat Rindu jengah rasanya.

Rindu memantulkan bola basket ke udara. Ia sudah tak peduli kemana arah bola itu akan jatuh.

Dengan ekspresi kesal, Rindu menatap Gavin yang berada di sebelahnya. "Nggak bosen-bosennya ya lo ganggu gue. Udah berapa kali gue bilang sih, Vin? Gue nggak marah, oke? Jadi, buang jauh-jauh kata maaf lo. Lo nggak ada salah. Puas?"

Gavin mengacak rambutnya dengan gemas. "Dengan lo bersikap kaya gini, ini malah nunjukin kalau lo marah sama gue, Rin. Lo itu keras kepala. Di mulut bilang nggak. Tapi perlakuan ke gue masih nunjukin kalau lo marah sama gue!" tanpa sadar, Gavin meninggikan suaranya.

Rindu yang terkejut mendapati Gavin membentak dirinya, melotot. Ia semakin kesal dengan Gavin. "Itu salah lo! Siapa suruh lo suka gue! Lo tahu, gue cuma nganggep lo temen, Vin! Temen!" Setelah berkata demikian, Rindu berbalik dan mengambil tasnya yang berada di pinggir lapangan.

Ia sudah tak peduli anak basket lain mendengar dan melihat perdebatan mereka. Hari ini sudah cukup melelahkan bagi Rindu.

Gavin menggeram tertahan dan memantulkan bola basket di tangannya dengan keras. Ia mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Gavin berjalan menuju pinggir lapangan dan mengambil handuk kecil di tasnya.

"Nih." Sebuah tangan terjulur di depan wajah Gavin dengan membawa sebotol air dingin. "Anya? Belum pulang?" Gavin terkejut mendapati Anya-lah orang yang memberinya air mineral. Anya tersenyum singkat saat Gavin menerima air pemberiannya dan meneguknya dengan rakus.

"Tadi gue ada urusan di OSIS. Waktu gue mau pulang, gue inget kalian ada ekstra basket, jadi gue mutusin buat mampir bentar. Eh, tapi kalian malah berantem," jelas Anya sembari terkekeh.

Melihat Anya tertawa, membuat Gavin sewot. "Lo kenapa ketawa? Ngetawain gue?" Melihat ekspresi sewot Gavin, Anya makin mengeraskan tawanya. "Kalian lucu, sih. Rindu apalagi." Gavin berdecak. Meneguk sekali lagi air mineral pemberian Rindu. "Susah ya mau ngomong suka sama orang?"

"Sebenarnya nggak susah, sih. Yang buat susah itu ngomong sukanya ke Rindu." Gavin menatap Anya, kemudian ikut tertawa dengan perempuan itu. "Iya lo bener. Yang bikin susah itu ngomongnya ke Rindu, ya..." Anya memperhatikan bagaimana Gavin tertawa. Sekilas, perempuan itu mengulas senyum sedih dan kembali tertawa ketika Gavin menatapnya.

"Udah, lupain. Saran gue, kalau di depan Rindu, jangan nunjukin perasaan lo dulu. Lo tahukan, Rindu masih suka sama Abang gue? Yang wajar aja sama Rindu. Ntar juga dia bakal terbiasa lagi sama lo."

Gavin mengukir senyuman dan mengelus rambut Anya. "Lo emang sahabat terbaik gue, Nya." Anya tersenyum tiga jari. Kemudian ia bangkit berdiri. "Yuk, pulang!"

***

Rindu melangkah di halaman sekolah menuju gerbang depan. Dengan masih memakai seragam basket, Rindu menyapa Pak Satpam yang biasa menjaga di gerbang sekolah. "Pulang dulu, Pak." "Hati-hati di jalan, Neng."

Saat sampai di luar sekolah, Rindu terkejut mendapati Saveri berdiri menyandar pada body mobilnya. Wajah lelaki itu terlihat lebih kaku dari biasanya. Tapi, meskipun begitu, Rindu tetap suka.

Rindu menyumpah pelan kepada dirinya sendiri karena lupa dengan perkataan Saveri tadi pagi. Perempuan itu meringis, dan berjalan menghampiri Saveri. "Maaf, nunggu lama ya?" "Tiga jam," sahutnya singkat, kemudian ia berjalan mengitari mobil dan masuk ke kursi pengemudi.

"Kita mau kemana?" Tanya Rindu ketika sudah duduk di kursi penumpang sebelah Saveri dan sudah memakai seatbelt. "Trus Anya mana?" Rindu kira, Saveri bukan hanya akan menjemputnya, melainkan Anya juga.

Tetapi melihat keadaan mobil hanya ada mereka berdua, Rindu sedikit tidak mengerti.

"Kakak mau ngajak aku kawin lari ya?!" tanya Rindu dengan histeris. Dia berlagak syok dan menggenggam tali seatbelt kuat-kuat, berakting dramatis. "Gausah ngaco. Mending lo diem!" peringat Saveri tanpa menoleh ke arah Rindu. Saveri lebih tertarik ke arah jalanan daripada tampilan Rindu sekarang yang masih memakai seragam basket.

"Yaelah. Emang kenapa? Aku ganggu pikiran kakak, ya?" "Iya!" Jawab Saveri dengan spontan tanpa berpikir panjang.

Di tempatnya duduk, Rindu cengengesan sendiri. "Ciee... ketahuan banget lagi mikirin aku," goda Rindu sembari mencolek lengan lelaki yang duduk di sebelahnya sedang mengemudi.

Saveri melotot. Kadang ia tak habis pikir dengan jalan pikiran perempuan di sebelahnya. Berkali-kali Saveri jutekin, Rindu tetep keukeuh mengajaknya bicara. Berkali-kali Saveri marahin, Rindu tetap saja tidak kapok membuatnya naik pitam. Memang Rindu seajaib itu.

Saveri malas menanggapi bualan Rindu kalau akhir-akhirnya itu hanyalah godaan untuk Saveri. Jadinya, Saveri hanya membiarkan Rindu mengoceh sendiri sepanjang perjalanan dan mengomentari bnyak hal. Ketika mobil Saveri terpakir pada lapangan parkir sebuah butik, mata Rindu membulat.

Rindu tahu butik ini. Ini salah satu butik kenalan Mamanya yang menyediakan gaun-gaun untuk pesta semacam pesta pernikahan. Rindu menoleh horor pada Saveri yang sudah akan keluar dari mobil. "Kakak beneran mau ngajak aku kawin lari, ya?" suara Rindu lirih, tapi syarat akan kekhawatiran.

Rindu, sih, oke aja diajak kawin lari sama Saveri. Tapi masalahnya, Rindu belum siap jadi ibu rumah tangga yang baik. Wong, masak air saja, Rindu masih sering kelupaan sampai membuat panci air gosong. Ya kali, Saveri mau dimasakin panci gosong? Saveri menanggapinya dengan datar. "Gausah ngimpi!" Sakit. Tapi tak berdarah. Karenanya, Rindu hanya mencibir ketika Saveri sudah keluar mobil tanpa mau membukakan pintu untuknya.

*** 28 Januari 2018

Gue bela-belain nih, gais, nulis ulang gegara tadi sempet eror laptop gue. Gtw kenapa... Padahal tadi udah nulis banyak dan ketika udah bisa, malah ilang draftnya.. kan kesel... Tapi alhamdulillah kelar juga 

Oh, iya, mungkin di antara kalian ada yang bingung sama sikap Rindu yang kadang nggak jelas apalagi waktu marahan sama Gavin. Jadi gini, gue jelasin satu-satu ya... Kan mereka masih sekolah, SMA gitu.. nah, di lingkungan gue, banyak remaja-remaja labil, kalau marahan ya kaya Rindu. Apapun bisa jadi salah di matanya walaupun itu nggak ada sangkut pautnya sama sekali.

Dan, sifat Rindu yang labil gini, kan, malah menurutku cocok. Soalnya kalau remaja gitu suka labil-labil nggak jelas  Dan kalau soal Rindu yang kadang sedih tapi kelihatan baik-baik aja besoknya di depan Saveri itu karenaaa... Rindu kan suka tuh sama Saveri. Tapi si Saveri ini kerap kali kata-katanya kasar ke Rindu atau mungkin dia kerap nggak anggep Rindu gitu. Aku nggak pengin buat si Rindu ini sedih terus, patah hati mulu tiap hari. Menurutku, biarpun di sakitin tiap hari, dipatah hatiin hari ini, besok harus baik-baik aja. Bcs, life must go on, right?

Kalau masalah antara Gavin dan Anya, kalian pasti udah pada bisa nebak. Yap... Anya ini awalnya suka sama Gavin. Dan dia udah ngungkapin juga perasannya. Tapi ditolak. Sakit nggak tuh. Tapi Anya adalah tipikal cewek strong. Biarpun ditolak, Anya cepet move onnya.

Jadi itulah penjelasan karakter RINDU. Kalau masih ada yang belum paham, bisa langsung ditanyakan yappp. Dan semoga kalian suka dengan bab ini...

Love, Erisya (Yang lagi nahan kantuk karena musti nulis ulang semua draft)

* SELESAI *

Bagaimana perasaannya setelah membaca Kumpulan Cerita Hati yang Rindu diatas? Mudah-mudahan dengan membaca Cerita Tentang Rindu ini, bisa mewakili perasaan kita semua. Sebab terkadang, melalui kata katalah kita mampu melukiskan perasaan kita, sehingga bisa sampai secara jelas kepada sesuatu yang kita inginkan. Jangan lupa datang kembali untuk menyimak Kisah Cerita Tentang Rindu lainnya pada waktu yang akan datang. Salam santun dan semoga bermanfaat.

Baca juga: Kumpulan Puisi Sufi Terlengkap

Comment Policy: Setiap komentar yang masuk akan diperiksa terlebih dahulu sebelum ditampilkan, silakan tulis komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui. Terima kasih untuk kerja samanya.
Buka Komentar
Tutup Komentar