Skip to main content

Ketika Santri Jatuh Cinta Eps 3

Ketika Santri Jatuh Cinta Eps 3 by Santrie Salafie

Ketika Santri Jatuh Cinta Eps 3 ( Bagian Kelima dan Keenam ) - Apa sih yang terlintas saat mendengar santri jatuh cinta? Benarkah Santri juga bisa jatuh cinta? Lantas seperti apa jatuh cintanya para santri? tenang, karena pada kesempatan kali ini Santri Salafi akan berbagi tentang Ketika Santri Jatuh Cinta Eps 3 ( Bagian Kelima dan Keenam ).

Selengkapnya, langsung saja yuk scroll ke bawah untuk menyimak lebih lanjut tentang Ketika Santri Jatuh Cinta Eps 3 ( Bagian Kelima dan Keenam ).

Ketika Santri Jatuh Cinta Bagian Kelima

Sebagaimana kau yang merasa. Akupun ingin mencinta, namun apalah daya.. Terkekang oleh nestapa. Akan asa yang sia-sia.

Secercah cahaya masuk menerobos melalui celah dinding. Setidaknya hanya itu yang tidak bisa hafsah cegah.. tampak keputus asaan dalam raut wajahnya.

Terlihat barang-barang yang berserakan tidak pada tempatnya, banyak sisa makanan yang hampir ditumbuhi jamur dimana- mana. hafsah tak peduli jika harus berbagi tempat dengan lalat dan serangga lainnya.. ia tak lagi peduli pada bau busuk yang menyeruak tajam.. baginya yang bertemankan keputus asaan ,kehidupan tak lagi menyenangkan..

" tok tok , terdengar bunyi ketokan pintu . Seperti biasa bunda akan mengetok pintu terlebih dahulu ketika sampai waktunya makan dan meletakkan piring makanannya di depan pintu.. ia akan ambil makanannya setelah memastikan bahwa tidak ada siapapun .

Segalanya telah berubah, cita-citanya untuk menjadi pengajar telah kandas, mimpinya untuk bersekolah setinggi-tingginya telah sirna , bagai hidup tanpa nyawa, bernafas tanpa udara, terhempas dalam jurang hampa tanpa batas. kembali terngiang ingatan akan kejadian itu. Malam dimana setelahnya, dunia seakan berkhianat padanya.

Malam itu tepat sepulang dari pengajian. Hafsah pulang seperti biasa dengan beberapa temannya.. tiba-tiba ia baru sadar jika sendalnya tertukar dengan milik orang lain. Hafsah pun berpisah dengan teman-temannya dan kembali ke mesjid untuk menukar kembali sendalnya.

Tak ada yang janggal, hafsah berjalan seperti biasa, namun tiba saat ketika hafsah melewati kebun pisang yang terhampar luas disepanjang kiri jalan. Hatinya merasa takut tapi ia yakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.

Dengan setengah berlari akhirnya hafsah sampai di perbatasan. Tiba tiba seseorang memeluknya dari belakang.. hafsah ingin berteriak namun mulutnya lebih dulu disumpal dengan sebuah kain. Kaki dan tangannya di ikat, hafsah berontak mencoba melawan . Ia bergerak sebisanya tapi kekuatan hafsah tak sebanding dengan pria yang menangkapnya.

Hafsah di seret paksa kedalam sebuah gubuk kecil dipinggiran kebun. "Aku mohon. Ambil apa saja.. tapi jangan sakiti aku.. isak hafsah. Pria itu menyeringai tajam membuat hafsah gemetar ketakutan. " siapa yang akan menyakiti? Aku bahkan ingin memberi mu kenikmatan.. bisik pria itu.

Perlahan ia mulai mendekati hafsah yang meringkuk ketakutan di lantai. Keinginannya semakin memuncak tatkala melihat rok hafsah yang tersingkap tak sengaja saat hafsah terjatuh. "Aaaaaakkkkhhhh.. hafsah berteriak histeris sambil melempar benda apa saja yang ada di sekitarnya.

Ia benar-benar hancur.. kesedihan yang tiada akhir membuat hafsah beberapa kali mencoba mengakhiri hidupnya.. namun takdir berkata lain. Hafsah masih hidup hingga saat ini.

Hafsah.. panggil bunda dari luar. " Pergi.. " teriak hafsah lagi. " hafsah buka pintunya .. ayah ingin bicara... ucapan ayah membuat hafsah terdiam. Mungkinkah ayah berubah pikiran? Batin hafsah bertanya-tanya.

" ayah akan bicara pada abuya muhammad.. kita akan minta pertanggung jawaban atas apa yang telah dilakukan anaknya..

Hafsah terkejut, seketika itu jua hatinya bersorak.. perlahan hafsah buka pintu kamarnya.. tak kuasa bunda menahan air mata melihat anak perempuannya dengan penampilan sangat kacau. Tidak ada lagi hafsah yang periang, tidak ada lagi hafsah yang selalu terlihat bersih dan rapi.. hafsah sekarang adalah orang yang berbeda.

" ayah apa itu benar..? Tanya hafsah ragu. " tidak usah khawatir ayah pastikan malik akan bertanggung jawab . Ucapan ayah membawa kegembiran bagi hafsah, Ia merasa senang namun tak membuatnya tenang.. ada sesuatu mengganjal yang tak dapat diungkapkan dengan kata.. suatu rahasia yang akan tetap menjadi rahasia..

Ketika Santri Jatuh Cinta Bagian Keenam

Terkadang manusia selalu mencari pembenaran pada setiap kesalahan. Entah pada orang yang tepat ataupun tidak. Semua hanya tentang siapa penjahat dan siapa korban. Tanpa mau menelisik lebih dalam.

"Malik menyiapkan kitab-kitabnya, kali ini ia akan belajar di musholla. Tak lupa buku catatan pelajaran yang akan ia berikan pada nayla, masih ada beberapa bagian yang menurutnya masih kurang jelas. Baru beberapa saat ia melangkah.. seseorang memanggilnya.

"Mal.. di panggil abuya disuruh pulang kerumah. Seorang santri memberitahunya.. malik terdiam mencoba mengingat kesalahan apa yang telah ia lakukan selama beberapa hari terakhir, tidak ada kecuali kepergiannya untuk menemui nayla dan malik yakin tidak ada satupun orang yang mengetahuinya.

"Baiklah .. sahut malik, Mau tidak mau belajarnya harus tertunda. " ada tamu.. gumam malik begitu melihat beberapa pasang sendal selain sendal abi dan ummi, diberanda rumahnya, entah kenapa ada keraguan dalam hatinya, apa kali ini semua akan baik-baik saja. Batin malik cemas.

" assalamualaikum.." Malik melangkah masuk namun sesuatu membuatnya terhenti. Kehadiran pak abdullah ayahnya hafsah seakan menjadi kecemasan yang baru, ia masih ingat bagaimana pak abdullah dan beberapa polisi menyeretnya keluar dari pesantren untuk diadili, malik hanya bisa menunduk pasrah ketika hampir seluruh pesantren menyaksikannya berjalan dengan tangan diborgol.

" waalaikum salam .. nak ayo duduk.. panggil ummi. Dengan terpaksa malik melakukan perintah ummi untuk duduk bersama mereka. " jadi bagaimana abuya.. tanya pak abdullah.. abuya terdiam kemudian menoleh pada malik. " hafsah ingin pertanggung jawaban darimu.. ucap abuya.

Apa yang malik takutkan akhirnya terjadi.. entah bagaimana ia harus bersikap, malik merasa semuanya begitu tak adil apa hanya karna ia laki-laki. Malik menghembuskan nafas kasar.

" bi.. bukankah kesepakatannya aku boleh memilih satu diantara 2 hal. Menikahi hafsah atau masuk penjara.. pilihanku jatuh pada masuk penjara dan sekarang aku sudah menyelesaikan masa hukuman. itu berarti ketika aku bebas aku tidak perlu lagi menikahi hafsah.. jelas malik membuat abi terlihat marah atas penolakan malik.

" jadi nak malik ingin lari dari tanggung jawab.. begitu?" Tanya pak abdullah sedikit geram. "bukankah ini artinya penipuan?" Tanya malik lagi. Plak.. satu tamparan keras mendarat dipipi malik. "ummi tidak pernah mengajarimu menjadi orang yang berkata sembarangan." Bentak ummi.

" ummi.. malik mengatakan yang sebenarnya, kalau bukan menipu lalu apa lagi berbohong? Malik sudah lelah dipermainkan, malik lelah dimanfaatkan. Sudah cukup malik masuk penjara hanya karna tuduhan tak berdasar. Malik tau harus ada orang disalahkan, Tapi sekarang malik tidak bisa diam lagi ini sudah keterlaluan.

Saat itu malik berbicara lebih banyak dari biasanya, berusaha mencari keadilan pada setiap kata. Namun terkadang, apa yang dilihat dengan mata tertutup itu lebih dipercaya dari hanya sekedar mendengar kata.

Air mata menggenang dipelupuk matanya.. hafsah menangis tersedu dalam pelukan sang bunda. Tak ada yang lebih menyakitkan dari sebuah penolakan.

Suasana menegang malik berusaha mengendalikan emosinya sesekali ia memegangi pipinya yang terasa perih, tapi baginya kerasnya tamparan ummi tak sepadan dengan hukuman yang selama ini abi berikan namun kali ini hatinya lah yang merasa sangat kesakitan.. malik sangat kecewa bahwa pada akhirnya ummi pun menyalahkannya.

" malik tidak mau menikahi hafsah.. ucap malik tegas membuat suasana semakin memanas. " tolong percaya pada malik untuk kali ini saja.. setelahnya malik tidak akan menuntut apapun dari kalian.

" malik.. cukup.." teriak ummi." ketika malik masuk kegubuk itu , malik sudah menemukan hafsah tergeletak tanpa pakaian.

Aaaaakkkkh... Hentikaannn.. teriak hafsah histeris , harga dirinya terasa diinjak-injak selama ini hafsah sudah cukup menderita.. ayah dan bundanya panik melihat hafsah mulai menyakiti dirinya sendiri dengan memukul-mukul kepalanya.

"Tuduhan tak berdasar ya. Mati-matian pak abdullah menahan amarahnya.. " kalau begitu jelaskan maksud dari foto ini.. pak abdullah melemparkan beberapa lembar foto. Malik terbelalak melihat orang dalam foto itu adalah dirinya yang memeluk hafsah tanpa pakaian.

" tidak ummi.. malik tidak pernah melakukannya, malik dijebak. Ketika malik masuk kegubuk itu malik keluar lagi. Saat itu malik bingung harus bagaimana, tiba-tiba seseorang menyerang malik dari belakang sampai malik tak sadarkan diri. "jadi kamu ingin mengatakan bahwa anak kami yang bersalah.. begitu?" Tanya pak abdullah yang sudah tidak sabar lagi. Orang tua mana yang rela anaknya dihina seperti itu.

" malik sudah bersedia masuk penjara, mengorbankan waktu belajar malik. Bertahun-tahun didalam penjara bukan perkara semudah membalikkan telapak tangan. Dan sekarang malik dipaksa bertanggung jawab lagi atas apa yang bukan malik lakukan. Malik jatuh, memohon dihadapan hafsah ia tak kuasa lagi menahan air matanya.

" aku mohon katakan yang sebenarnya . Jangan menyiksaku seperti ini lagi.." ratap malik. Pak abdullah sudah sangat geram ditariknya kerah baju malik , ia pukul malik tanpa henti.. ummi berteriak mencoba melindungi anaknya, sedang abi hanya terdiam tanpa berbuat apa-apa.

Pukulan demi pukulan malik terima, ia sudah tak bisa merasakan wajahnya lagi,darah mengucur deras dari hidung dan mulut malik. Luka lebam memenuhi wajahnya.. ummi terlihat menangis sambil memohon pada abi untuk menghentikan pak abdullah.

Hal terakhir yang malik lihat sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.. sebuah senyuman terukur tipis dibibir hafsah.

Penutup

Semoga dengan membaca Ketika Santri Jatuh Cinta Eps 3 ( Bagian Kelima dan Keenam ) ini, bisa menambah wawasan kita semua tentang Santri dan mudah-mudahan bisa selalu istiqamah dalam kebaikan. Amin. Namun perlu diingat, ini hanya sekedar cerita karangan saja. Salam santun dan semoga bermanfaat.

Baca juga lanjutan kisahnya: Ketika Santri Jatuh Cinta Eps. 4 ( Bagian Ketujuh dan Kedelapan )

Comment Policy: Silakan baca Kebijakan Komentar kami sebelum berkomentar.
Buka Komentar
Tutup Komentar