Skip to main content

Ketika Santri Jatuh Cinta Eps 2

Ketika Santri Jatuh Cinta Eps 2 by Santrie Salafie

Ketika Santri Jatuh Cinta Eps 2 ( Bagian Ketiga dan Keempat ) - Apa sih yang terlintas saat mendengar santri jatuh cinta? Benarkah Santri juga bisa jatuh cinta? Lantas seperti apa jatuh cintanya para santri? tenang, karena pada kesempatan kali ini Santrie Salafie akan berbagi tentang Ketika Santri Jatuh Cinta Eps 2 ( Bagian Ketiga dan Keempat ).

Selengkapnya, langsung saja yuk scroll ke bawah untuk menyimak lebih lanjut tentang Ketika Santri Jatuh Cinta Eps 2 ( Bagian Ketiga dan Keempat ).

Ketika Santri Jatuh Cinta Bagian Ketiga

seburuk itukah kehidupan. Apa yang tak di inginkan haruskah di musnahkah. Apa yang tak diharapakan haruskah di lupakan. Lalu.. apakah masih ada yang namanya suka duka kehidupan.
Hafizah duduk termenung di tepi ranjang sesekali ia seka butir bening yang mengalir deras keluar dari matanya. Ahmad suaminya hanya terdiam tanpa bisa melakukan apa" melihat kesedihan sang istri, karna pada dasarnya ia juga sedang berjuang menguatkan hati untuk terus tegar dan bersabar..

Hafizah menyerahkan benda kecil berbentuk panjang pada suaminya dengan deraian air mata. " maaf kan aku.. aku belum bisa memberimu anak.. isak hafizah. Untuk kesekian kalinya hanya ada satu garis yang menandakan negatif .. ahmad pun segera memeluk istrinya ia paham betul kesedihan hafizah. wanita mana yang tidak ingin menjadi seorang ibu begitu pula laki" mana yang tidak ingin menjadi seorang ayah.

" sudahlah tidak apa.. mungkin tidak untuk sekarang tapi kita belum tau esok bukan??

Hafizah tersenyum miris.. ia merasa sangat rapuh, satu hal yang sangat ia takutkan entah sampai kapan suaminya akan bertahan di samping nya dan menenangkannya.. 5 tahun pernikahan bukanlah waktu yang singkat.. selama itu pula ia berharap dan terus berharap. Tak terhitung berapa banyak materi yang keluar, berapa banyak dokter yang mereka datangi. Hasilnya tetap sama hafizah tetap tidak bisa memiliki anak..

"Aku sampai lupa kapan pertama kali aku mendengar kalimat itu darimu.. ucap hafizah. Mas.. ku rasa hanya ada satu jalan... hafizah menjeda ucapannya. " menikah lah.. Ahmad terkejut ia tak menyangka hafizah akan menjadi serapuh itu..

" aku akan pergi mengajar.. kau baik" lah di rumah.. ucap ahmad datar sambil mengambil tasnya tanpa menggubris ucapan hafizah. " mas .. Hafizah berdiri di depan pintu mencoba menghalangi suaminya. "Mas dengar.. ini demi kebaikan kita semua .. tanpa sadar untuk pertama kalinya hafizah meninggikan suara di depan suaminya. " kita sudah pernah membahasnya bukan..

" tapi itu dulu mas.. sekarang sudah berbeda.. sudah berbeda.. ini sudah terlalu lama. teriak hafizah. " sayang.. jangan sampai ujian 5 tahun membutakan matamu dengan ni'mat yang allah berikan selama belasan tahun.. ahmad mencoba menenangkan istrinya.

"Apalagi.. apalagi yang kita tunggu? Apa kamu tidak lelah dengan penantian tiada akhir. Aku sudah lelah.. lelah dengan semuanya.

" sayang.. Apa kamu pernah mengerti perasanku. Dimana-mana selalu aku yang disalahkan, pernahkah kau bertanya tentang alasanku? kenapa aku tidak suka berkumpul dengan keluargamu? karena hanya aku dan selalu aku yang di salahkan. hafizah yang mandul. Hafizah yang hanya memikirkan diri sendiri. Hafizah yang tak pernah mau mengerti keinginan suaminya..

" sayang.. kenapa kamu terlihat biasa saja .. kenapa kamu masih bisa tersenyum bahagia dengan kondisi keluarga kita yang seperti ini.. nada bicara hafizah semakin meninggi.

" CUKUP.. bentak ahmad tak dapat lagi ia menahan emosi.. Ia lemparkan tasnya kesembarang arah.. begitu pula barang" yang awalnya tersusun rapi di atas meja tak luput menjadi sasaran kemarahannya. Hafizah menjerit ketakutan, belum pernah ia melihat suaminya semarah itu sebelumnya.

" kau kira menikah itu mudah? Di mana kau letakkan pikiran mu.. aku juga sedih aku juga kecewa, bukankah ucapanmu sudah menyakiti hatiku.. aku juga ingin bahkan sangat ingin memiliki anak.. tapi menikah lagi bukanlah satu" nya jalan..

Menikah bukan hanya menyangkut kita berdua tapi menyangkut semua orang.. apalagi dengan yang namanya pernikahan kedua.. ahmad terjatuh di hadapan hafizah. Ia tau bahwa tidak boleh sedikitpun ia memperlihatkan kesedihannya pada hafizah . Entah kenapa hari itu ia merasa sangat lelah dan tertekan..

"Apa kau tidak pernah memikirkan perasaanku? Apa kau tidak pernah memperdulikan perasaanmu sendiri.. apa kau tidak takut aku jatuh cinta lagi dan melupakanmu.. ucap ahmad.

" aku sangat takut itu akan terjadi. Aku hanya tidak ingin menjadi kesedihan untukmu. Aku bukan orang yang tuli atau buta .. aku dapat melihat jelas kesedihanmu .. kekosongan hatimu.. sekalipun kau mencoba menyembunyikannya dari ku, aku tau perasaanmu karna aku istrimu.. orang yang akan selalu ada di samping mu dan mendukungmu.. orang yang akan selalu menperjuangkan kebahagiaan untukmu.. ucap hafizah lirih sambil memeluk ahmad.

" ketika orang-orang mengolok-olokmu, pada hakekatnya mereka juga mengolok-olok dan meremehkanku. Karena kamu adalah istriku tulang rusuk ku.. aku sudah berkomitmen bahwa pernikahan hanya ada satu kali dalam kehidupan.. hargailah aku yang sudah memilihmu untuk menjadi pendamping hidupku dan akan tetap begitu sampai kapan pun.. ahmad merasakan matanya mulai memanas. Sekuat tenaga ia tahan tangisnya.

" sekali ini saja.. bolehkah aku meminjam bahumu sekedar untuk bersandar.. bolehkan aku menangis di pelukanmu.. hari ini aku merasa sangat letih.. pinta ahmad. Hafizah hanya mengangguk sembari mempererat pelukannya.

" sayang.. setidaknya hargailah komitmen ku.. aku sedang mencari jalan keluar dari masalah ini, bantulah aku dan jangan mematahkannya dengan memberiku jalan pintas.. apa kamu tidak sadar bahwa aku juga manusia yang bisa berputus asa.. aku adalah lelaki normal seperti yang lain.. ucapan suaminya membuat hafizah sadar akan kesalahannya.. entah kenapa terngiang ucapan suaminya .. bahwa jika tidak untuk sekarang belum tentu esok..

Cahaya mentari pagi masuk menerobos melalui jendela.. menjadi saksi akan hati dua insan yang dibelenggu kesedihan kala itu...

Ketika Santri Jatuh Cinta Bagian Keempat

Kebahagiaan bagaimana yang akan kau dapatkan. Ketika angan tak sesuai harapan. Mimpi tak jelas tergambarkan. Hayalan bertolak belakang kenyataan. Bahkan alam pun melakukan pengkhianatan.
Seperti biasa nayla duduk disebuah bangku di tepi taman.. hari itu terlihat ramai orang berlalu lalang.. menunggu adalah hal yang paling membosankan bagi nayla.. tapi entah kenapa hatinya tak sejalan dengan pikirannya..

Hari itu pun malik kembali terlambat.. sudah berapa kali ia memeriksa jam . Namun yang di tunggu tak jua nampak batang hidungnya.

" neyney. tiba-tiba saja terdengar suara seorang yang memanggil nama "neyney", nayla tersenyum, nama itu mengingatkan pada salah seorang sahabat yang dulu seasrama dengan nayla. Neyney begitulah panggilan kesayangan dari sahabatnya.. mengingat nya membuat nayla serasa kembali pada masa" membahagiakan itu. Masa dimana ia masih berstatus sebagai seorang santri.. masa indah yang sangat singkat , hanya 2 bulan ia sempat belajar setelah itu ibu terkena stroke.. dokter mengatakan ibu mempunyai darah tinggi. Di tambah penanganan yang tidak tepat, kelelahan yang berlebihan, dan beban pikiran yang terlalu lama di pendam ..

Uang serta ongkos yang baru saja di berikan ibu semuanya habis untuk biaya pengobatan...bahkan barang" berharga yang masih tersisa di rumah pun semua nya habis terjual.. nayla tak perduli yang ia pikirkan hanyalah kesembuhan ibu.. satu"nya keluarga yang ia miliki, satu"nya orang yang berharga dalam hidupnya..

" ney.. tiba" sudah ada seorang wanita di hadapannya .. nayla bingung merasa tak mengenal wanita bercadar yang tengah berdiri tepat di depannya di tambah wanita itu memanggilnya dengan ney. " maaf aku membuatmu bingung.. ini aku.. hafizah. Ucap hafizah yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.. nayla melongo tak percaya, setahunya hafizah sudah lulus 5 tahun lalu. Hafizah mengambil tempat duduk di sebelah nayla..

"Aku kira kamu sudah tidak disini lagi. " setelah lulus aku di angkat menjadi salah satu pengajar di pesantren.. hafizah menatap nayla, tidak banyak perubahan padanya. Mata yang menatap sayu dengan bibir yang selalu melengkung tersenyum... hanya satu yang berubah tatapan matanya yang kosong tak seceria dulu. Ia yakin pasti ada sesuatu yang terjadi pada sahabatnya itu..

"Bagaimana dengan keluarga di bandung? Apa mereka tak sedih terpisah jauh darimu? Tanya nayla lagi berusaha mencairkan suasana yang sempat canggung. " alhamdulillah baik.. semuanya baik" saja... sahut hafizah lirih..

Ada keraguan yang terdengar dari ucapan hafizah, nayla tahu ada sesuatu.. tapi sebaiknya ia hanya diam dan tidak mencampuri urusan sahabat lamanya itu. " ney.. ku dengar rumah mu yang dekat pesantren di jual.. sekarang kalian tinggal dimana? " darimana kamu tahu fiz..

" setelah kepulanganmu yang mendadak itu.. kamu tidak ada kabar sama sekali . Tiba-tiba ada kabar, kalau kamu berhenti, "sejak saat itu aku mencemaskanmu. Lalu ketika libur aku bermaksud untuk menjenguk, tetapi rumahmu sudah kosong", kata bi nafis tetenggamu.. kamu sudah pindah beberapa bulan yang lalu.

Nayla tersenyum ia pikir tak ada lagi orang yang peduli padanya. " ibuku sakit fiz.. beliau terkena stroke. Butuh biaya yang banyak untuk pengobatan ibu.. ku pikir hanya dengan menjual rumah itu aku bisa mendapat uang yang banyak. " lalu bagaimana ibu sekarang.. apa sudah sembuh.?" Nayla menggeleng kemudian tertunduk lesu.

" pengobatan ibu terhenti karna tidak cukup biaya.. sekarang aku masih mengusahakannya". Hafizah terenyuh ia tau bahwa nayla tidak memiliki siapa" lagi selain ibunya. Kini ia sadar bahwa masih ada orang yang lebih menderita darinya.. musibah yang ia terima tidak ada apa"nya jika di bandingkan dengan apa yang telah nayla lalui.

" aku turut prihatin.. ney ini.. semoga bisa membantu .. ucap hafizah sambil menyerahkan sebuah amplop pada nayla.. nayla berusaha menolaknya, ia rasa sungkan jika harus menyusahkan sahabatnya di awal pertemuan mereka.

" ney.. aku berikan untuk ibu .. terima lah.. ibu pasti membutuhkannya.." bujuk hafizah nayla pun dengan berat menerimanya. " terima kasih fiz.. maaf menyusahkan mu." " ibu sudah ku anggap seperti ibuku sendiri.. oh ya ney.. berikan alamatmu.. jika ada waktu aku akan berkunjung."

dari kejauhan hafizah melihat ahmad yang tengah berjalan kearahnya.. "Ney . Insya allah aku akan berkunjung .. aku pergi dulu ya.. assalamualaikum." Belum sempat nayla menjawab hafizah sudah pergi lebih dulu. "sepertinya dia sangat sibuk sekarang". gumam nayla..

hafizah bergegas menemui suaminya sebelum terlambat. "darimana saja.." tanya ahmad melihat kehadiran sang istri. "hanya berjalan-jalan saja." Sahut hafizah tersenyum sambil menggandeng tangan suaminya .. ada kesedihan yang teramat dalam hatinya.. ia harus tegar walau sangat menyakitkan..

" aku sudah menemukannya .. batin hafizah..

Penutup

Semoga dengan membaca Ketika Santri Jatuh Cinta Eps 2 ( Bagian Ketiga dan Keempat ) ini, bisa menambah wawasan kita semua tentang Santri dan mudah-mudahan bisa selalu istiqamah dalam kebaikan. Amin. Salam santun dan semoga bermanfaat.

Baca juga lanjutan kisahnya: Ketika Santri Jatuh Cinta Eps. 3 ( Bagian Kelima dan Keenam )

Tambahkan aplikasi Santrie Salafie di smartphone tanpa install, buka Santrie Salafie dengan browser Chrome di smartphone lalu klik ikon 3 titik di browser kemudian pilih "Tambahkan ke layar utama". Selanjutnya klik aplikasi Santrie Salafie dari layar utama smartphone Anda untuk menggunakannya.
Comment Policy: Silakan baca Kebijakan Komentar kami sebelum berkomentar.
Buka Komentar
Tutup Komentar