Skip to main content

Cerita Humor Santri Ndablek

Cerita Humor Santri Ndablek by Santrie Salafie

Cerita Humor Santri Ndablek - Pernahkah anda membaca atau mendengar Cerita Humor Santri Ndablek? Jika mendengar kalimat "Cerita Humor Santri", apa yang anda pikirkan? Sedih..? Bahagia..? Lucu..? atau tidak heran sama sekali? Dari hasil survei yang Admin lakukan, hampir 96% orang menjawabnya dengan "lucu dan tertawa bahagia". Bagaimana dengan anda?

Pada kesempatan kali ini Santrie Salafie akan berbagi tentang Cerita Humor Santri Ndablek. Langsung saja yuk scroll ke bawah untuk menyimak lebih lanjut tentang Cerita Humor Santri Ndablek.

Humor Santri

kali ini masih disebuah pondok pesantren, tepatnya pada hari kamis pagi. Seperti biasanya, setiap hari kamis pagi ada kultum yang di bawakan oleh Kiai atau biasa di panggil para santri dengan sebutan Abah. Kultum ini sifatnya umum, artinya di peruntukkan untuk semua kalangan santri, tanpa memandang kelas dan tingkat pelajarannya. Sebab pada kultum yang lain, biasanya berisi tentang Tausiyah, bukan tentang pelajaran tertentu seperti Tafsir Qur'An, Nahwu, Shorof atau ilmu Fiqih.

Santri Ndablek

Seperti biasa, pasti ada 3 santri ndablek ( bandel ) yang datang belakangan. Biasanya mereka selalu datang setelah di RAZIA para pengurus karena menghindar dari ikut ngaji kultum. Ada yang sembunyi di WC, dapur, atau bahkan ada pula santri pura-pura masak atau nyuci. Pasti yang namanya pengurus pondok sudah hafal betul akan siasat seperti itu dan tentunya sudah hafal tempat persembunyian dan "pelarian" para santri ndablek ini, dan yang biasa menjadi langganan serta membuat predikat santri "ndablek" level atas adalah tiga orang yang baru datang tadi. Yaitu kang bahlul, kamso dan badrun.

Dan Abah juga sangat hafal dengan wajah-wajah santri "ternama" ini.

"Haduh... kalian lagi... kalian lagi.. apa kalian gak bosan main kucing-kucingan terus sama pengurus". kata Abah

Dan kang bahlul dkk tau bahwa yang di maksud abah adalah mereka, mereka hanya bisa tertunduk tak berani menjawab ataupun memandang Abah. Kultum dimulai, semua santri terlihat mendengarkan tausiyah Abah dengan serius dan seksama, tak terkecuali ketiga santri masyhur, yakni kang bahlul, kang kamso dan kang badrun. Mereka juga terlihat khusyuk, atau mungkin pura-pura khusyuk mendengarkan tausiyah yang di sampaikan.

Nah, intinya dari semua yang saya sampaikan tadi.. “Jangan terlalu memperjuangkan akan dunia, belajarlah ikhlas akan semua hal”.

“Jika kau kehilangan sesuatu atau kau ingin memberikan sesuatu, maka kau harus ikhlas. Karena kita harus sadar, bahwa segala sesuatu didunia ini bukan milik kita tapi SEMUA MILIK ALLAH dan Allah hanya menitipkannya saja pada kita. Lalu ketika hal tersebut hilang, kita juga harus ikhlas, sebab pada dasarnya semua milik Allah dan juga Allah berhak mengambilnya kembali jika Allah ingin”.

“Faham semua?”, kata abah.

"Faham...yaiiii...", jawab para santri serempak.

"Cukup sekian kultum kali ini, mari kita tutup dengan membaca hamdalah dan do'a bersama. Wabillahit taufiq walhidayah, Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..." kata Abah menutup kultum pagi itu.

dan para santri serentak menjawab dengan salam.

*Dan aksi mereka di mulai*

Di ceritakan... Abah memiliki sebuah pohon jambu yang selalu di rawatnya dengan baik sehingga buahnya sangat manis dan besar-besar. Pohon jambu tersebut adalah pohon kesayangan abah, pohon yang berada dibelakang ndalem (rumah) Abah itu tidak pernah sekalipun ada santri yang berani mengambil buahnya. Karena mereka tau itu adalah pohon yang disayangi oleh kiyai mereka.

Malam itu, kang bahlul dkk sedang asik bercanda dan bercengkrama didepan kompleks. Karena malam jum'at mereka tidak memiliki kegiatan dan rutinitas ngaji juga libur di malam jum'at. Hanya ada beberapa santri yang mengisinya dengan belajar dan membaca Al-Qur'an di kamar, yang lainnya menghabiskan waktu dengan bersantai untuk mendinginkan otak dari rutinitas pondok.

“Kam.. kamu ada duit tidak?" Tanya kang bahlul pada kamso.

"Wah uangku juga mulai nipis lul, tanya sama si badrun... mungkin dananya sudah cair.. dapat kiriman". Jawab kamso.

Dan badrun merasa dirinya di tuju, hanya mengangkat bahu bahwasanya sama diapun tak punya uang.

"Aduh, perutku lapar nih brow... mau ikut aku gak, cari makanan?". tanya kang bahlul pada kedua temannya.

"Weh.. uang aja nggak punya lul, mau nyari makanan pakai apa?" sanggah badrun.

"kita petik jambu di belakang ndalemnya Abah yuk...," ajak kang bahlul.

“wah....wah...wah... kamu ini, cari perkara ya lul? Mau di dukani (dimarahi) sama abah?” kata kamso.

"Sudahlah santai saja. Abah nggak bakalan marah. Kalau kalian tidak berani memanjat, nanti biar aku yang memanjat. Kalian ngantar aku aja.. dan nunggu di bawah, kalau ada apa-apa biar aku yang nanggung", kata kang bahlul meyakinkan kedua temannya.

Akhirnya begitu hebatnya rayuan ala kang bahlul, kamso dan badrun pun terbujuk rayuan maut kang bahlul. Mereka menuju pohon jambu di belakang ndalem abah. Sebagaimana kesepakatan, kang bahlul yang manjat pohon jambu, sedangkan kamso dan badrun hanya nunggu di bawah. Ternyata abah mendengar akan keberadaan mereka. Karena merasa penasaran.. siapa yang malam-malam begini ada di belakang rumah, abah pun keluar untuk melihatnya dan berniat menegur. Begitu abah melihat ada tiga santri "tersohor" sedang asyik memetik buah jambu kesayangan, abah pun menghampiri mereka dan berniat memarahinya.

"Hai...sedang apa kalian malam-malam di sini? Mau nyolong jambu ya?" tegur abah.

Kontan saja badrun dan kamso di buat terkejut, karena mereka tak manyadari kedatangan Abah, tak terkecuali kang bahlul; tapi bukan kang bahlul namanya kalau tidak mengeluarkan ilmu "mbondet" alias ilmu ruwet-meruwetkan, hehehe...

Dengan berusaha santai kang bahlul pun menjawab... “Maaf bah, saya sudah minta, saya tidak mencuri” jawab kang bahlul.

"Minta? Memangnya kamu sudah bilang pada pemiliknya? Inikan pohon jambu punya saya, kalian belum meminta izin sama saya..". kata abah berusaha sabar.

"Eh.. Abah salah... sangat-sangat salah... segera bertaubat bah... ingat pada yang maha kuasa... kata kang bahlul.

(PERINGATAN !!! adegan jangan ditiru, sebab sangat tidak sopan, bicara sama kiainya ma...sak kayak sama temennya.)

"Apa maksud mu lul?", tanya abah yang dibuat bingung oleh kang bahlul.

"Sebagaimana yang abah sampaikan saat pengajian kultum tadi pagi, segala hal didunia ini adalah milik Allah, manusia hanya dititipi. Nah..., termasuk jambu ini juga, saya tadi sudah minta izin sama Allah. kenapa Abah duko-duko (marah-marah)? jawab kang bahlul.

"Astaghfirullahhal'adzim..", Kata abah sambil menahan amarahnya.

Ternyata kini abah telah termakan tausiyah yang di sampaikannya sendiri, meski cara pegunaannya kurang tepat. Tapi abah sadar apa yang di sampaikan oleh kang bahlul itu memang benar. Akhirnya abah diam dan meninggalkan kang bahlul dkk begitu saja tanpa sepatah kata pun.

Mereka mengira kalau abah tidak akan memarahi mereka lagi. Dan malam berikutnya mereka bertiga mengulangi hal yang sama. Kali ini mereka lebih berani dan terang-terangan tanpa takut untuk dimarahi. Tapi baru saja kang bahlul memanjat, tiba-tiba punggungnya di pukul dengan sebuah tongkat rotan meski tidak besar tetapi "panasnya" tetap terasa. Ternyata abah memang sudah menunggu mereka dari tadi di situ. Abah sengaja duduk di kegelapan malam agar mereka tidak tau keberadaannya.

Tentu saja kang bahlul teriak karena merasa terkejut dan kesakitan.... ketika dia tahu yang memukul itu kiai mereka, dia pun bertanya dengan nada sedikit protes.

"Bah... kenapa mukul punggung saya bah? kan sakit bah,,". kata kang bahlul sambil meringis dan mengusap punggungnya yang "panas" itu.

"Siapa yang memukul punggung mu lul?” “Saya cuma memukul punggung milik Allah.. sebab semua hal di dunia ini milik Allah, dan tadi saya sudah minta izin sama Allah untuk memukul punggung milik Allah ini sampai berulang-ulang kalau tetep masih bandel...". kata abah dengan santainya.

Mendengar perkataan Abah, kang bahlul langsung turun dengan cepet dari pohon jambu dan segera lari bersama badrun dan kamso kembali ke komlek pondok. Kini kang bahlul sadar, bahwa meggunakan pengetahuan untuk hal yang tidak baik itu adalah kesalahan besar dan kini ia mulai menyadari yang namanya guru pasti memiliki cara untuk mengalahkan kebandelan seorang murid.

Setelah mejadian malam itu, kang bahlul dkk tak berani lagi cobo-coba memetik jambu "milik Allah" di belakang ndalem Abah. Karena dia takut jika, "punggung milik Allah" kembali dipukul pakai rotan. hehehe....

Ada-ada saja memang kelakuan santri.. dalam dunia pesantren memang kenakalan santri seperti cerita diatas seakan-akan sudah sangat mashur, ketika seorang kiai memiliki pohon yang berbuah maka siap-siap pula menjadi incaran para santri...hehe

Dan itu sudah banyak terbukti, mereka berdalih bahwasannya yang mereka lakukan bukanlah sebuah pencurian, melaikan ngalap barokah. Aneh bukan.... tapi memang itu kenyataannya.

Memang kebanyakan para santri yang notabennya di pesantren ndwaaaableknya tingkat akut. Sehingga pengurus, bahkan kiainya pun sampai kewalahan dengan tingkah santri ndablek ini. Tapi anehnya, ketika mereka sudah lulus dan keluar dari pesantren, kebanyakan mereka menjadi tokoh agama yang di segani. Bahkan ada pula yang menjadi kiai yang arif dan bijaksana berbanding terbalik dengan kehidupan di pesantren.

Aneh ya... tapi memang itu sudah banyak terbukti... jadi jangan remehin santri ndablek... hahaha...

Hidup santri NDABLEK.... Haduh...jadi berasa gaje...wkwkkk.... Udah ah....

- SELESAI -

Baca juga: Humor Santri Kelewat Lucu OVERDOSIS

Comment Policy: Silakan baca Kebijakan Komentar kami sebelum berkomentar.
Buka Komentar
Tutup Komentar