Skip to main content

Mafia Sholawat Indonesia

Mafia Sholawat Indonesia by Santrie Salafie

Mafia Sholawat Indonesia - Pernahkah kalian membaca atau mendengar kisah tentang Mafia Sholawat Indonesia? Apa itu Mafia Sholawat? Dimana Pusatnya Mafia Sholawat Indonesia? Kapan berdirinya Mafia Sholawat Indonesia? Dan siapakah pendiri Mafia Sholawat Indonesia?

Tenang, karena pada kesempatan kali ini Santrie Salafie akan berbagi tentang Mafia Sholawat Indonesia. Selengkapnya, langsung saja yuk scroll ke bawah untuk menyimak lebih lanjut tentang Mafia Sholawat Indonesia.

Mafia Sholawat Indonesia

Ketika pertama kali saya mengetahui istilah Mafia Sholawat, secara otomatis pikiran terpola untuk merumuskan sesuatu hal yang ganjil. Pada bagian belakang (sholawat) terdapat istilah yang mengarah pada nilai positif, religius dan suci. Sangat kontras sekali dengan kata pada bagian depan yaitu "mafia", yang mengarah pada suatu hal yang sangar, negatif, dan gelap. Saya yakin, pergolakan pikiran tersebut juga dirasakan oleh banyak orang yang belum mengetahui kepanjangan dan makna di balik istilah Mafia Sholawat.

Mafia Sholawat merupakan kepanjangan Manunggaling Fikiran lan Ati dalam Sholawat. Bersatunya pikiran dan hati dalam sholawat. Secara eksplisit kepanjangan tersebut masih menyisakan misteri karena identik dengan istilah yang cukup keramat, "Manunggaling Kawula lan Gusti". Sebuah ajaran seorang tokoh sufi yang sangat fenomenal, Syekh Siti Jenar. Meskipun bagi orang yang sudah mempelajari sejarah sufisme dan kebatinan Jawa, istilah tersebut sebenarnya istilah yang biasa saja.

Manunggaling Fikiran lan Ati ing ndalem Sholawat

Kembali pada istilah Manunggaling Ati lan Fikiran. Jika dipahami secara mendalam, kunci kebahagiaan hidup manusia ditentukan oleh menyatunya pikiran dan hati. Hati dan pikiran selalu sejalan seirama, tidak saling bertentangan, keduanya digunakan secara proporsional. Juga mengandung makna kejujuran. Mungkin itulah arti sebenarnya dari Manunggaling Fikiran lan Ati -> "Mafia". Tidak merujuk pada ajaran Manunggaling kawula lan Gusti ala Syekh Siti Jenar yang terkenal hanya mengedepankan aspek ma'rifat dan mengabaikan aspek lainnya, khusunya syariat.

Secuil informasi dan asumsi tersebut saya dapatkan ketika takdir mengharuskan saya untuk mengenal lebih dekat Mafia Sholawat, khususnya pada tokoh KH Ali Shodiqin, atau yang biasa diebut dengan sapaan Gus Ali Gondrong/Abah Ali. Garis ketentuan tersebut terwujud lewat suatu amanah dari pihak panitia untuk membuat suatu video publikasi serta mendokumentasikan kegiatan pengajian serta sholawat akbar pelantikan Pengurus MWC NU Kecamatan Batuwarno. Untuk menggali informasi lebih dalam tentang Mafia Sholawat, berbagai literatur menuntun saya untuk mendapatkan beberapa informasi tentang Gus Ali.

Web serta youtube layak mengenalkan saya pada wujud Gus Ali yang tidak hanya nyentrik dari segi penampilan, tetapi juga metode serta modul dakwahnya. Pada saat rapat koordinasi panitia, ketua Banser menyampaikan bahwa pengajian Gus Ali berbeda dengan pengajian kebanyakan, karena jamaah Mafia Sholawat berasal dari berbagai kalangan. Bahkan kalangan yang selama ini dianggap marjinal. Kaum marjinal dan kental dengan nuansa hitam tersebut misalnya mantan preman, anak jalanan, WTS, pemabuk, dan penjudi.

Waktu yang dinantikan tiba. Gambaran umum tersebut tidak jauh dengan apa yang saya alami ketika menghadiri langsung pengajian Gus Ali. Bahkan kenyataan melebihi ekspektasi saya sebelumnya. Dari sekian banyak pengajian yang pernah saya ikuti, selama ini yang paling berkesan dan sesuai dengan hati saya adalah Pengajian Maiyah Cak Nun, dakwah dialogis yang membuka peluang komunikasi tak hanya satu arah, membahas materi yang ringan hingga berat, dan semuanya dibalut dengan nuansa seni. Sehabis menghadiri langsung pengajian Gus Ali Gondrong, hingga saya memperoleh alternatif pengajian yang bagi saya tidak kalah menarik.

Mafia Sholawat mampu meramu resep materi cinta, keagamaan, nasionalisme, kebebasan, sosialisme, kemanusiaan, serta seni budaya menjadi satu kesatuan yang utuh serta sangat indah. Dengan sangat berani, Gus Ali mengantarkan bahwa Pengajian Mafia Sholawat merupakan Pengajian Pacul," sing papat ojo ngasi ucul". Artinya jangan sampai jama'ah Mafia Sholawat melupakan 4 prinsip ataupun tingkatan penjelasan tentang syariat, tarikat, hakikat, serta marifat. Hal ini cukup unik, karena masalah tarikat, hakikat, dan ma'rifat jarang sekali dibahas pada pengajian-pengajian umum. Biasanya 3 permasalahan ini dibahas dalam ruang-ruang eksklusif dan terbatas. Bahkan beberapa kalangan menganggap bahwa pembahasan 3 hal tersebut sebaiknya dihindari karena berbagai alasan.

Pendekatan pada Tuhan melalui kebaikan tingkah laku, ibadah, dan akhlak yang baik merupakan manifestasi ma'rifatullah. Pesan-pesan perdamaian, ukhuwah Islamiyah, tidak membeda-bedakan sesama manusia, cinta sesama makhluk beberapa kali disampaikan sebagai penerjemahan makna hakikat tujuan diciptakannya agama. Laku- laku spiritual lewat dzikir, doa, sholawat, dan tari sufi ini adalah sebuah upaya tarikat mendekatkan diri kita kepada Allah Swt. Semua itu tak lepas dari upaya-upaya untuk menaati hukum-hukum syariat yang menjadi dasar pelaksanaan ajaran agama Islam.

Sebagian perihal yang unik pada pengajian Mafia Sholawat, Gus Ali kerap mengajak jamaah untuk menikmati keelokan dunia spiritual dalam artian yang sesungguhnya. Jamaah diajak untuk bersholawat, bersenandung, berdzikir, melambaikan tangan, berdoa, dan diakhiri dengan pengusapan pada wajah dan dada. Sehingga para jamaah merasakan kesejukan jiwa secara langsung, dan tak jarang perasaan sejuk dan damai tersebut bertahan dalam waktu yang lama.

Pernah sekali Abah Ali mengajarkan tentang cara pembukaan cakra dan amalan pagar badan melalui dzikir. Gus Ali menyarankan jika ada keluarga yang sakit sebaiknya dibawa ketika menghadiri Mafia Sholawat, karena sudah terbukti banyak orang sakit yang sembuh setelah menghadiri pengajian Mafia Sholawat. Proses penyembuhan tersebut dilakukan oleh Gus Ali dengan cara mengajak untuk meniatkan diri menyembuhkan penyakit, dan melakukan suwuk melalui makanan, minuman, bersalaman, memukul kepala, dan lain-lain.

Gus Ali menarangkan penyebabnya menjual sebagian sarana penolak santet, pembuang penyakit, pagar tubuh, serta sejenisnya pada saat pengajian Mafia Sholawat. Perihal itu dilatar belakangi oleh kejadian duka masal beberapa waktu yang lalu, yakni kakeknya wafat diakibatkan oleh santet. Gus Ali juga menjelaskan bahwa bagi warga NU, rajah, laku-laku tarikat dan sejenisnya merupakan hal yang biasa dilakukan karena semua memiliki dasar dari kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama terdahulu. Semua bermuara pada upaya dan doa kepada Allah Swt semata, jauh dari niat menduakan Allah Swt atau kemusyrikan. Ibarat orang sakit yang menggunakan obat, maka obat tersebut hanyalah sarana yang diberikan Allah Swt untuk menyembuhkan suatu penyakit.

Abah Ali sering mengingatkan pentingnya nasionalisme. Fenomena pembakaran "bendera tauhid" yang dilakukan oleh Banser tak luput dari pembahasan. Menurut Gus Ali, bendera pada zaman Nabi Muhammad Saw tidaklah seperti bendera yang selama ini digunakan sebuah ormas terlarang, yang kebetulan sama dengan bendera yang dibakar oleh Banser. Karena ketika zaman Nabi Muhammad Saw menyebarkan Islam, belum ada harokat seperti yang tertulis pada bendera yang dianggap bendera Nabi Muhammad Saw ketika perang. Gus Ali juga menjelaskan, bendera Nabi Muhammad Saw digunakan hanya ketika terjadi perang. Dikhawatirkan jika bendera tersebut dikibarkan pada suasana damai seperti di Indonesia, akan menimbulkan kekacauan/panasnya suasana. Namun Gus Ali mempersilakan jika memang ada orang yang berniat untuk mengibarkan bendera tauhid tersebut dengan niat yang berbeda.

Salah satu kunci kebahagiaan menurut Gus Ali Shodiqin adalah hilangnya rasa kebencian kepada sesama makhluq ciptaan Tuhan. Senada dengan slogan Mafia Sholawat -> "Berbeda itu tidak masalah, yang menjadi masalah ialah jika kita membeda-bedakan". Perbedaan aliran, organisasi, agama, pilihan, sebaiknya tidak menimbulkan rasa benci di antara sesama manusia. Perbedaan merupakan sunnatullah yang tak dapat dihindari.

Peran kelompok musik dan penari sufi Semut Ireng cukup penting dalam menjaga mood penonton. Mereka mengiringi sholawat dan dzikir yang digunakan untuk koor massal sepanjang acara. Uniknya lagi, tidak hanya lagu-lagu religi, beberapa lagu Superman is Dead dan lagu nasional juga dibawakan.

Tak heran jika ada beberapa kalangan yang pro maupun kontra dengan pengajian ala Mafia Sholawat. Namun bagi saya memang di sinilah keunggulan Gus Ali Gondrong yang berhasil menarik berbagai kalangan. Kehadiran beberapa kalangan yang dianggap berasal dari "dunia hitam" merupakan fenomena menarik, karena hal itu sangat jarang terjadi. Mayoritas pendakwah hanya berhasil menarik simpati "jamaah putih" saja.

youtube image

Sering Gus Ali mengajak jamaah untuk bertaubat, bersedekah, menghadiri majelis-majelis pengajian, beribadah ke masjid, dan ibadah-ibadah lainnya. Kentalnya nuansa islami, dzikir, amar ma'ruf nahi munkar dan nasionalisme selaras dengan salah satu slogan dari Mafia Sholawat:

Mafia Sholawat: Josss
NKRI: Harga Mati
Sholawat: Sampa Mati
Taubat: Sebelum Mati

Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat kita ambil dari Mafia Sholawat Indonesia diatas adalah:
  • Mafia Sholawat adalah kepanjangan dari Manunggaling Fikiran lan Ati ing Ndalem Sholawat, yang artinya "bersatunya pikiran dan hati dalam sholawat". Media dakwah 'Mafia Sholawat' sendiri didirikan pada 10 November 2013 di Ponorogo Jawa Timur oleh KH. Muhammad Ali Shodiqin atau beliau akrab disapa Gus Ali Gondrong.
Semoga dengan membaca Mafia Sholawat Indonesia ini, bisa menambah wawasan kita semua tentang Media dakwah yang bernama "Mafia Sholawat". Salam santun dan semoga bermanfaat.

Lihat juga video: Hadromi Yaman Baina Katifaihi Alamah

Comment Policy: Silakan baca Kebijakan Komentar kami sebelum berkomentar.
Buka Komentar
Tutup Komentar