Skip to main content

5 Humor Gus Dur Paling Lucu se Indonesia Raya

5 Humor Gus Dur Paling Lucu se Indonesia Raya by Santrie Salafie

5 Humor Gus Dur Paling Lucu se Indonesia Raya - Pernahkah anda membaca atau mendengar 5 Humor Gus Dur Paling Lucu se Indonesia Raya? Jika mendengar nama Gus Dur disebut apa yang anda pikirkan? Sedih..? Bahagia..? Lucu..? atau tidak heran sama sekali? Dari hasil survei yang Admin lakukan, hampir 97% orang menjawabnya dengan "bahagia, kagum dan lucu". Bagaimana dengan anda?

Pada kesempatan kali ini Santrie Salafie akan berbagi tentang 5 Humor Gus Dur Paling Lucu se Indonesia Raya. Langsung saja yuk scroll ke bawah untuk menyimak lebih lanjut tentang 5 Humor Gus Dur Paling Lucu se Indonesia Raya.

Kumpulan Cerita Humor Gus Dur Lucu

Dia yang tak pernah lelah menjadi Gus Dur? atau Gus Dur yang tak mau menyerah meraih Dia?

Cerita Humor Gus Dur 1: Pesawat Mendarat di Matahari

Siang itu, diselimuti cuaca berawan dan angin yang semilir, Gus Dur bercerita tentang seorang Menteri Riset dan Teknologi yang sedang berkunjung ke Pulau Garam, Madura.

Si menteri ini memberikan sambutan di hadapan warga Madura mengenai prestasi anak bangsa yang mampu merakit pesawat sendiri bahkan bisa merakit pesawat yang bisa turun ke bulan.

“Jadi saudara-saudara, poro kiai, dan bapak/ibu, kita harus bangga dengan prestasi anak bangsa tersebut. Setuju?” pekik sang menteri.

Hadirin diam, tak merespon. Sang menteri mencoba bertanya kembali, “Apakah saudara-saudara bangga?”

“Kalau saya tak bangga sama sekali Pak Menteri,” celetuk seorang santri yang duduk di pojokan.

“Kenapa kok tidak bangga, dik?” tanyanya.

“Soalnya sudah ada yang begitu Pak. Saya akan bangga kalau bikin pesawat yang bisa ke matahari, tak iye...” ucap sang santri dengan logat Maduranya.

“Oohh...begitu ya. Apakah adik tahu kalau mendarat ke matahari itu tak mungkin bisa,” kata Pak Menteri sambil pringisan.

“Loh, kenapa tak mungkin Pak?” si santri ngeyel.

Pak Menteri menjelaskan panjang lebar kepada si santri yang intinya, jangankan mendarat, baru mendekat sekian juta kilometer saja pesawat bisa meleleh sebab panas.

“Kalau masalahnya hanya itu sih mudah saja Pak,” kata sang santri dengan pedenya.

“Loh, mudah gimana?” Pak Menteri makin bingung dengan si santri.

“Kalau takut pesawatnya meleleh karena panas, berangkatnya habis Maghrib saja Pak, kan sudah dingin, tak iye...” seloroh si santri. (Fathoni)

Kisah ini disarikan dari buku “Gus Durku, Gus Dur Anda, Gus Dur Kita” karya Muhammad AS Hikam (2013).

Cerita Humor Gus Dur 2: Soal Korupsi dari Masa ke Masa

Sore itu seperti biasanya, Gus Dur menerima sekian banyak tamu dengan bermacam ragam tujuan. Ada yang mau meminta nasihat, saran, serta masukan. Terdapat pula yang cuma mau mencermati joke terbarunya.

Gus Dur salah satu pemimpin nasional yang memiliki perilaku tegas terhadap kejahatan korupsi. Kebetulan, salah satu tamunya menyampaikan kegelisahan tentang korupsi di Indonesia yang seakan jadi‘ lingkaran setan’.

“Gus, tentang korupsi di negara kita, kenapa ya Gus seolah sudah menjadi budaya?” tanya salah seorang tamu.

Gus Dur sudah bisa merasakan, itu pertanyaan yang terlontar secara serius. Terbukti dengan gestur dan intonasi suara sang tamu. Namun, ia berupaya tetap santai menanggapi pertanyaan tersebut.

“Ah, budaya gimana? Zaman sekarang korupsi relatif bisa dipantau dibanding era-era sebelumnya,” jawab Gus Dur enteng.

“Memang korupsi di zaman-zaman sebelumnya gimana, Gus?” tanya seorang tamu lainnya.

“ Sebab di era Orde Lama, korupsi di bawah meja. Di era Orde Baru di atas meja. Nah, di era reformasi, mejanya sekaligus dikorupsi,” lontar Gus Dur.

“Geeerrrrr...” tawa semua tamu meledak.( Ahmad)

Disarikan dari buku “The Wisdom of Gus Dur: Butir-butir Kearifan Sang Waskita” (2014)

Cerita Humor Gus Dur 3: Sopir Angkot dan Pemuka Agama di Depan Pintu Surga
Alkisah dalam kebangkitan hidup di akhirat, 3 pemuka agama nampak berdebat tentang siapa yang berhak masuk pintu surga terlebih dulu. Malaikat tidak mau memutuskan siapa yang boleh masuk terlebih dahulu sebelum debat mereka clear.

Tetapi, seketika saja terdapat seorang pemuda compang- camping, tidak begitu gagah mendekati pintu surga memohon masuk kepada Malaikat. Malaikat mengecek novel daftarnya, tidak lama Malaikat mempersilakan pemuda itu masuk surga. 3 pemuka agama tersebut protes.

Salah satu pemuka agama mengajukan pertanyaan,“ Pak Malaikat, tadi itu siapa? Kok langsung nyelonong masuk surga?”

“Itu si Ucok, pemuda rantau asal sebuah desa di ujung Sumatera,” jawab Malaikat.

“ Emang ia kelebihannya apa ketimbang kita bertiga, kok tidak ditanya?”

“ Ia sopir angkot jurusan Senen- Kampung Melayu tukang ngebut,” jelas Malaikat.

“ Loh, lha kita bertiga ini pemuka agama. Kita lebih berhak masuk surga duluan dibandingkan ia.”

Malaikat mengungkap,“ Ah sampeyan bertiga ini gimana. Malah sebab si Ucok ini tukang ngebut dikala membawa angkot membuat para penumpang senantiasa menyebut- nyebut nama Gusti Allah biar tidak kecelekaan. Sampeyan bertiga ini kebalikannya, jika ceramah dan khotbah membuat jamaah bosen serta ngantuk semua. Boro- boro jamaah ingin berkhidmah dan ingat kepada Allah.”( Ahmad)

Disarikan dari buku“ Gus Durku, Gus Dur-Anda, Gus Dur-Kita” karya dari Muhammad AS.Hikam( 2013 ).

Cerita Humor Gus Dur 4: Awal Mula Cerita Gus Dur Singgung 3 Polisi Terjujur di Indonesia
KH Abdurrahman Wahid( Gus Dur) merupakan Presiden RI kesatu yang menjadikan institusi Kepolisian Republik Indonesia( Polri) bagaikan lembaga independen yang diletakkan di dasar Presiden langsung.

Di era sebelumnya, yaitu Orde Baru (Orba), kewenangan Polri di bawah Tentara Nasional Indonesia (TNI). Hal ini menjadikan Polri sebagai aparat keamanan dalam negeri diatur dengan cara tentara sehingga kerap menimbulkan kontradiksi.

Pembicaraan terkait institusi Polri berawal dari lontaran Muhammad AS Hikam yang pada 2008 silam sowan ke kediaman Gus Dur. Saat itu terdapat Pak Rozi Munir jua yang tengah jagongan santai di rumah Gus Dur.

Obrolan diawali kegelisahan tokoh-tokoh bangsa tersebut melihat fenomena maraknya praktik korupsi di lintas institusi negara, perbankan, termasuk Polri. Padahal, institusi-institusi negara bertugas tidak lain melayani seluruh elemen warga negara. Praktik korupsi ini tentu tidak hanya merugikan negara, tetapi juga menyengsarakan warga negara.

AS Hikam memberikan cerminan kalau mega- korupsi BLBI serta Bank Century yang mengaitkan pihak- pihak tertentu ialah perkara yang penangannya tidak jelas sampai saat ini. Sementara itu duit rakyat sudah raib ratusan triliun( Rp600 triliun untuk perkara BLBI serta RP6, 7 triliun untuk perkara Bank Century).

Di hadapan Gus Dur, AS Hikam berucap: “Kasus yang melibatkan Polri ini apakah saking sudah kacaunya lembaga itu atau gimana ya Gus. Kan dulu panjenengan yang mula-mula menjadikan Polri independen dan diletakkan langsung di bawah Presiden?”

“Gini loh, Kang,” Gus Dur mengawali perkataannya.

“Polri kan sebelumnya di bawah TNI dan itu tidak bener. Mosok aparat keamanan dalam negeri dan sipil kok diatur oleh dan dengan cara tentara. Tapi kan memang begitu maunya Pak Harto dan TNI supaya bisa menggunakan Polri untuk mengawasi rakyat. Setelah reformasi ya harus diubah, maka Polri dibuat independen dan untuk sementara supaya proses pemberdayaan terjadi dengan cepat di bawah Presiden langsung. Nantinya ya di bawah salah satu kementerian saja, apakah Kehakiman seperti di AS atau Kementerian Dalam Negeri seperti di Rusia, dan lain-lain. Nah, Polri memang sudah lama menjadi praktik kurang bener itu, sampai guyonan-nya kan hanya ada tiga polisi yang jujur: Pak Hoegeng (Kapolri 1968-1971), patung polisi, dan polisi tidur... hehehe...,” urai Gus Dur panjang lebar. Pak Rozi dan AS Hikam tertawa ngakak. (Fathoni)

Disarikan dari buku“ Gus Durku, Gus Dur-Anda, Gus Dur-Kita” karya dari Muhammad AS.Hikam( 2013 ).

Cerita Humor Gus Dur 5: Saat Kiai Kampung Bangga Punya ‘Eternit’
Perubahan zaman kadang harus segera mendapat respon cepat, terkadang juga harus tetap disikapi dengan bijak dan tenang. Di dalam NU sendiri, Gus Dur sebagai sosok yang pemikirannya melampui zamannya menilai, kadang orang NU mengingingkan perubahan yang cepat di tubuh organisasi sehingga kadang menimbulkan orang lain bingung.

Gus Dur menceritakan, bahwa pernah suatu waktu didatangi oleh seorang kiai kampung dari Pulau-Madura. Konon kiai tersebut merupakan Rais Syuriyah MWCNU yang ingin menginformasikan kemajuan NU di kecamatannya.

“Alhamdulillah Gus, sekarang MWCNU di tempat saya sudah punya kantor sendiri,” kata sang tamu.

“Wah, Alhamdulillah, Yai,” ucap Gus Dur ikut gembira.

“ Tetapi ini masih terdapat permasalahan, Gus,” kata Pak Kiai dengan logat Madura Pedalungan yang kental.

“ Loh, masih terdapat permasalahan apa lagi, Yai?” tanya Gus Dur.

“ Ya itu soal pembayaran‘ eternit’- nya. Mahal Gus. Jika kantor Hanya nyewa sejuta setahun, lha ini‘ eternit’- nya hingga seratus ribu sebulan,” jelas Pak Kiai.

“Kok bisa Kiai? Eternit kan termasuk rumah, masak pake mbayar sendiri,” kata Gus Dur bingung. ( Eternit, bahan bangunan yang dibuat dari kombinasi asbes halus serta semen)

“Itu lho Gus, yang dipakai cari informasi di komputer itu, kan ‘eternit’ yang sewanya mahal,” ucap kiai.

“ Oohh... Masya Allah, iktikad panjenengan internet toh...” kata Gus Dur sembari ngakak. ( Ahmad)

- SELESAI -
Hehehe... Itulah 5 Humor Gus Dur Paling Lucu se Indonesia Raya, semoga terhibur dan jangan lupa share postingan ini kepada teman-teman anda. Salam santun dan semoga bermanfaat.

Baca juga: Humor Lucu: Menulis Surat untuk Tuhan

Comment Policy: Silakan baca Kebijakan Komentar kami sebelum berkomentar.
Buka Komentar
Tutup Komentar