Skip to main content

Cara Mendidik Anak menurut Imam Al Ghazali

Cara Mendidik Anak menurut Imam Al Ghazali by Santrie Salafie

Cara Mendidik Anak menurut Imam Al Ghazali - Pernahkah kalian membaca atau mendengar tentang Cara Mendidik Anak menurut Imam Al Ghazali? Bagaimana Cara Mendidik Anak menurut Imam Al Ghazali yang baik? Tenang, karena pada kesempatan kali ini Santrie Salafie akan berbagi tentang Cara Mendidik Anak menurut Imam Al Ghazali.

Selengkapnya, langsung saja yuk scroll ke bawah untuk menyimak lebih lanjut tentang Cara Mendidik Anak menurut Imam Al Ghazali.

Cara Mendidik Anak menurut Imam Al Ghazali

Aktifitas mendidik anak-anak tidak sesederhana yang dibayangkan. AKtifitas mendidik anak-anak bukan sekedar mengalihkan anak-anak dari buta aksara menjadi melek aksara. AKtifitas mendidik anak-anak jauh lebih dari itu sebagaimana menjadi sorotan Imam Al-Ghazali.

Aktivitas mendidik anak-anak tidak bisa dianggap ringan. Ada beberapa karakter khusus dalam mendidik anak-anak yang berbeda karakter dengan aktivitas mendidik orang remaja atau orang dewasa. Imam Al-Ghazali memandang penting masalah ini. Ia menulis sejumlah adab untuk para pendidik anak-anak sebagai kutipan berikut ini:

Adab Para Pendidik Anak-Anak

adab untuk para pendidik anak-anak | Santrie Salafie Artinya:
    Adab pendidik anak-anak
  1. Ia harus mulai memperbaiki dirinya sendiri karena mata anak-anak menyaksikannya dan telinga mereka memperhatikannya. Apa yang menurutnya baik, maka itu dianggap baik oleh mereka. Apa yang menurutnya buruk, maka itu dianggap buruk oleh mereka.
  2. Ia harus hemat bicara di forumnya dan cukup melirik tajam. Suasana pendidikan dominan dengan mencekam.
  3. Ia tidak perlu bincang-bincang dengan mereka karena mereka nanti lancang.
  4. Ia tidak boleh membiarkan mereka ngobrol karena mereka nanti menjadi leluasa di hadapan mereka.
  5. Ia tidak boleh bergurau dengan siapapun di hadapan mereka.
  6. Ia harus menjaga diri dari pemberian mereka.
  7. Ia harus bersifat wara dari akhlak tercela di hadapan mereka.
  8. Ia harus mencegah mereka dari kemurungan dan menahan mereka untuk cari-cari tahu.
  9. Ia menunjukkan buruknya ghibah dan menunjukkan ketidaksukaan dusta dan adu domba di hadapan mereka.
  10. Ia tak perlu menanyakan kondisi rumah mereka karena bisa menyebabkan mereka berat hati.
  11. Ia tidak boleh terlalu banyak menuntut keluarga mereka karena mereka nanti bosan.
  12. Ia harus mengajarkan mereka pelajaran thaharah dan shalat.
  13. Ia juga perlu mengenalkan mereka najis yang kemungkinan mengenai mereka.”
Lihat Al-Imam Al-Ghazali, Al-Adab fid Din, [Beirut: Al-Maktabah As-Sya’biyyah, tanpa catatan tahun], halaman 154).
Adab yang ditulis oleh Imam Al-Ghazali di sini memang tidak sepenuh relevan. Artinya, para pendidik anak-anak tidak bisa sepenuhnya menjaga adab yang ditulis tersebut. Pasalnya, zaman, daerah, dan kondisi yang Imam Al-Ghazali dan kita alami berbeda. Jadi penyesuaian-penyesuaian perlu dilakukan sesuai dengan konteks para pendidik di sini dan sekarang ini.

Yang jelas, dari kutipan ini kita dapat menarik kesimpulan umum bahwa pendidik anak-anak termasuk para orang tua yang masih memiliki anak-anak mengemban tanggung jawab yang tidak ringan. Mereka bertugas membuat anak-anak menjadi melek huruf.

Mereka juga bertanggung jawab mengenalkan najis, cara bersuci, cara shalat, dan ibadah yang akan menjadi rutinitas anak-anak kelak.

Mereka juga bertugas untuk memberikan keteladanan di hadapan anak-anak itu. Ini tugas paling sulit. Karena anak-anak menerima informasi begitu saja dari apa yang tampak di hadapan mereka dan terdengar oleh telinga mereka.

Banyak dari guru anak-anak atau orang tidak sadar mencontohkan keburukan seperti berbohong, melakukan sesuatu yang berbeda dari nilai yang selama ini ia sampaikan atau lain sebagainya di hadapan anak-anak.

Dilihat dari keterangan Imam Al-Ghazali, tampaknya mengajarkan akhlak anak-anak lebih efektik melalui keteladanan. Pendidikan melalui keteladanan para pendidik ini sulit.

Oleh karena besarnya tanggung jawab pendidik dan orang tua, maka profesi pendidik anak-anak seperti guru madrasah ibtidaiyah/SD, guru ngaji TPQ/TPQ, ustadz di pesantren anak-anak tidak kalah mulia dari pendidik orang remaja atau dewasa seperti guru SMP, guru SMA, dosen di perguruan tinggi, wallahu a'lam.

Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat kita ambil dari Cara Mendidik Anak menurut Imam Al Ghazali diatas adalah:
  • Cara Mendidik Anak menurut Imam Al Ghazali diatas bisa kita aplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai orang tua ataupun para pendidik disekolah, namun dari ke 13 poin diatas tidak sepenuhnya menjamin keberhasilan yang sudah dicoba. Semua itu kembali lagi kepada para pendidik dan juga orang tua dalam mengaplikasikannya pada usaha yang dilakukan.
Semoga dengan membaca artikel Cara Mendidik Anak menurut Imam Al Ghazali ini, bisa menambah wawasan kita semua tentang tata cara dalam mendidik anak yang baik. Harapan Admin adalah, semoga kita sebagai orang tua dan para pendidik bisa menjadi tauladan yang baik kepada anak-anak kita semua. Amin.. salam santun dan semoga bermanfaat.

Baca juga: Tips Islami Bersosmed sesuai Al Quran

Tambahkan aplikasi Santrie Salafie di smartphone tanpa install, buka Santrie Salafie dengan browser Chrome di smartphone lalu klik ikon 3 titik di browser kemudian pilih "Tambahkan ke layar utama". Selanjutnya klik aplikasi Santrie Salafie dari layar utama smartphone Anda untuk menggunakannya.
Comment Policy: Silakan baca Kebijakan Komentar kami sebelum berkomentar.
Buka Komentar
Tutup Komentar